Tampilkan postingan dengan label Teori/Paradox. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori/Paradox. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2016

Columbus' Egg

Columbus' Egg atau Egg of Columbus atau Telur Columbus adalah sebuah istilah yang cukup sering kita alami, namun mungkin tak kita sadari bahwa peristiwa itu adalah contoh peristiwa Telur COlumbus. Istilah ini sendiri artinya adalah sebuah ide/penemuan brilian yang terlihat sederhana setelah kita mengetahuinya.

Banyak orang yang mengkritik Columbus. Mereka mengatakan bahwa siapapun bisa menemukan Amerika, dan itu bukanlah sebuah pencapaian yang besar. Columbus lalu menantang para pengkritik tersebut untuk membuat sebuah telur berdiri. Setelah mereka menyerah, Columbus lalu mengambil sebutir telur, memecahkan ujungnya, dan telur itu pun bisa berdiri.

Pada awalnya kita mungkin bingung dan mencoba-coba membuat sebuah telur berdiri. Setelah sekian kali percobaan yang tak kunjung berhasil, kita pun menyerah. Ketika kita mendapatkan ide brilian yaitu memecahkan sedikit ujung telur, barulah kia menyadari kalau hal itu mungkin dilakukan, dan ide itu sebenarnya sangat sederhana.

Contoh kasus lainnya adalah pemecahan soal matematika. Matematika, sebagai momok bagi sebagian besar umat manusia, seringkali menjadi praktik Telur Columbus yang paling mudah ditemui. Bayangkan seorang guru memberikan muridnya PR matematika. Setelah memperhatikan sekilas, sang murid berkesimpulan bahwa "Ini adalah soal yang susah". Dia dan temannya sepakat untuk bekerja kelompok untuk menyelesaikan PR itu. Hanya untuk mendapati bahwa saking susahnya, empat orang murid bekerja bersama pun tak mampu menyelesaikannya. Keesokan harinya sang guru tersenyum sembari menunjukkan pemecahan yang begitu simpel. Murid-murid itu pun ternganga karena pemecahan itu begitu sederhana, namun tak terpikirkan oleh mereka.



Yogyakarta, 01 April 2016
"Baru saja mengalami Columbus' Egg"

Baca Selengkapnya....

Rabu, 30 Maret 2016

Double Standard

Double standard atau biasa disebut standar ganda. Pernah mendengar istilah ini?

Ya, standar ganda disini maksudnya adalah memperlakukan sesuatu secara berbeda (cenderung tidak adil) kepada orang yang berbeda.

Standar ganda adalah sebuah logical fallacy alias cacat-pikir yang seharusnya dihindari. Begini contoh cerita standar ganda:


Pada jaman dahulu kala, alkisah ada 3 orang yang pergi ke bioskop. Sebut saja mereka Ksatria, Putri, dan Pengharum Ruangan. Pengharum Ruangan adalah orang yang sensitif terhadap gangguan. Jika dia sedang berada di mode 'serius', humming dari seseorang pun mampu memecah konsentrasinya dan membuatnya kesal. Di sepanjang film, si Putri banyak sekali mengomentari kejadian-kejadian yang ditampilkan. Pengharum Ruangan pun merasa terganggu. Sebagai sesama penikmat film, Pengharum Ruangan bingung kenapa sang Ksatria tidak merasa terganggu.

Beberapa tahun berselang, akhirnya terjadi kejadian menarik. Pengharum Ruangan pergi menonton film bersama Obat Nyamuk. Di sepanjang film, Obat Nyamuk juga sering mengomentari scene di film. Anehnya, kali ini Pengharum Ruangan tidak merasa terganggu dan malahan tersenyum-senyum sendiri.

Setelah mereka pulang, Pengharum Ruangan pun tersadar bahwa dia baru saja mempraktikkan standar ganda.

Pengharum Ruangan akhirnya mengerti mengapa sang Ksatria tak merasa terganggu dengan celotehan Putri sepanjang film.

"Kalau yang tiap hari nge-humming itu adalah Obat Nyamuk, mungkin aku juga tak akan merasa kesal," pikir Pengharum Ruangan.

TAMAT


Yogyakarta, 30 Maret 2016
"On my way to slacking-off land"

Baca Selengkapnya....

Rabu, 24 Februari 2016

Semut Tiga Dimensi

"...singkat cerita kami berpikir bahwa kegiatan kalian para astronot adalah pemborosan, menghambur-hamburkan uang"

Setiap kali aku mendengar pernyataan yang sejenis maupun senada dengan pernyataan diatas, aku teringat pada sebuah kisah singkat yang menyertainya. Itu adalah kisah mengenai semut tiga dimensi.


*****


Pada jaman dahulu kala, semut hanya bisa berjalan pada satu garis lurus. Semut-semut ini tak bisa berbelok ke kanan atau ke kiri sedikitpun. Jalurnya mutlak sebuah garis lurus. Untuk sekian lama mereka bertahan hidup hanya dalam satu garis tersebut.

Suatu hari, secara tak sengaja sebuah ranting terjatuh tepat di atas jalur yang biasa mereka lalui. Semut-semut itu terhenti. Mereka bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.

Disaat sebagian besar dari mereka memutuskan untuk kembali ke sarang, seekor semut melakukan hal yang berbeda. Semut itu berjalan keluar dari jalur, dan mulai berbelok ke arah kanan. Semut-semut yang lain mulai meneriakkinya.

"Hoi. Mau ngapain kamu berjalan keluar jalur? Itu berbahaya!"

Namun semut itu tak peduli. Dia terus saja berjalan ke arah kanan, menuju ujung ranting tersebut. Setelah sampai di ujung, dia berbelok ke kiri dan menghilang di balik ranting. Semut-semut yang lain terdiam, lalu memutuskan untuk kembali ke sarang.

Tak lama kemudian semut yang menghilang tadi muncul dari sisi kiri ranting. Dia berhasil mengitari ranting itu dan kembali dengan selamat. Semut-semut yang lain terkejut, lalu mengikuti jalur yang telah dibuatnya dan berbelok ke kanan. Akhirnya semut-semut itu berhasil melewati ranting yang menghalangi jalan mereka.

Sejak saat itu, semut-semut tak lagi hanya bisa berjalan dalam satu garis lurus. Mereka juga mampu berbelok ke kanan dan ke kiri. Dari sinilah muncul istilah semut dua dimensi.


Beratus-ratus tahun kemudian, kembali terjadi sebuah kejadian tak terduga. Terjadi bencana tanah longsor yang begitu besar. Tanah dalam jumlah yang sangat besar menyapu jalur yang biasa mereka lewati, dan menghalangi jalur mereka.

Semut-semut itu berjalan ke kanan dan ke kiri, tapi gundukan tanah itu seakan tak berujung. Mereka tak mampu mengitarinya. Berhari-hari mereka berusaha, namun tetap tak membuahkan hasil.

"Sebaiknya kita menyerah saja," kata salah seorang dari mereka.

Semut-semut itu kelelahan. Usulan itu adalah sesuatu yang mereka tunggu-tunggu. Mereka hanya ingin kembali dan beristirahat. Tak lagi melakukan sebuah pekerjaan yang sia-sia seperti ini.

Sebelum kembali pulang, salah satu dari mereka berdiri di pinggir gundukan. Dia terdiam sambil menatap ke atas, ke arah gundukan tanah yang sangat tinggi seakan tak berujung.

Dia mulai melangkahkan kaki-kakinya menaiki gundukan tanah itu.

"Hei! Apa yang kau lakukan!? Itu berbahaya! Hei!!" semut lain meneriakinya.

Semut itu mengindahkan teman-temannya. Dia terus naik memanjat gundukan itu. Sedikit-demi sedikit dia semakin dekat menuju puncak. Semut-semut yang lain memperhatikannya dengan tatapan khawatir. Saat semut itu sampai di puncak gundukan, napas mereka tertahan. Semut itu terus berjalan, dan menghilang di balik gundukan. Menghilang dari pandangan semut-semut yang lain.

Semut-semut yang ada di bawah mulai bimbang. Seorang dari mereka berbalik dan mulai berjalan menuju sarang. Semut-semut yang lain mulai mengikuti.

Akan tetapi juga ada sekelompok semut yang masih diam terpaku. Semut-semut ini mulai menapakkan kaki mereka di gundukan tanah itu. Ragu-ragu, mereka memanjat dengan hati-hati. Perlahan tapi pasti, mereka semakin mendekat ke puncak gundukan. Teman-teman mereka yang sudah berjalan menuju ke sarang pun kembali terdiam. Sekali lagi mereka tercengang melihat teman-temannya yang lain menghilang di balik gundukan. Mereka pun mencoba mendaki gundukan itu, dan berhasil.

Sejak saat itu semut-semut bisa memanjat. Tak hanya ke kanan-kiri, tapi juga bisa naik-turun. Dari sinilah muncul istilah semut tiga dimensi.


*****


"Nah, ibu, inilah jawaban saya atas pernyataan ibu tadi," kata astronot itu. "Kami tak menyangkal bahwa uang yang dihabiskan untuk misi penjelajahan ruang angkasa tidaklah sedikit. Kamu pun tak menyangkal kalau uang ini bisa digunakan untuk hal-hal lain seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, maupun sarana kesehatan. Tapi kami tak berpikir kalau ekspedisi ke luar angkasa ini tidak penting. Sudah menjadi kodrat kita sebagai umat manusia untuk keluar dari kotak yang mengurung kita, dan mengeksplorasi hal-hal baru. Kita tak akan tahu apa yang menanti kita di luar sana kalau kita tetap diam"

Astronot itu tersenyum, lalu berjalan pergi.


(ditulis ulang, dengan beberapa modifikasi karena lupa, dari apa yang pernah didengar dan dibaca dari Space Brother)


--------------------------------------------


Wamy here~
Hari ini tiba2 gatel pengen nulis ginian. Bukan karna isu LGBT loh, yah. Tapi karna isu lainnya.

Kisah semut 3 dimensi ini adalah salah satu kisah paling 'ngena' yang pernah kubaca. Semoga yang baca ini juga merasakan hal yang sama.

Untuk kali ini, bakal di-post di Notes nya FB, dan besok bakal di-repost ke blog.

Seperti yang udah dikabarin, ini diambil dari salah satu scene di Space Brother alias Uchuu Kyoudai. Karena lupa cerita persisnya kayak gimana, jadi dicoba nge-remake tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan. Yang paling parah adalah lupa kata2 penutup dari sang astronot, sehingga impact nya kayaknya terasa kurang. Duh.


Yogyakarta, 21 Februari 2016
"Nothing's in vain”

Baca Selengkapnya....

Kamis, 03 September 2015

Ship of Theseus - Kapal Theseus

Alkisah, sekembalinya dari Kreta, para penduduk Athena menyambut kedatangan Theseus. Dan karena itu pula lah penduduk Athena memutuskan untuk mengawetkan kapalnya; Kapal Theseus.

Karena kapalnya terbuat dari kayu, setiap kali ada yang lapuk mereka menggantinya dengan yang baru. Lama kelamaan, semua bagian kapalnya sudah diganti dengan kayu yang baru.

Hal ini menyebabkan perdebatan di kalangan penduduk; Masihkah kita bisa menyebut kapal itu Kapal Theseus? Padahal setiap bagiannya sudah diganti dengan yang baru.


Gambar dari presentasi Jennifer Wang


Jenis lain dari paradox ini adalah Locke's Socks; Kaus Kaki Locke.

Ceritanya si Locke mempunyai kaos kaki. Suatu hari kaus kakinya berlubang. Dia kemudian menambal lubang tersebut dengan kain. Beberapa lama kemudian, bagian lain dari kaus kakinya berlubang. Dia pun menambal lubang itu. Begitu seterusnya sampai akhirnya kaus kakinya itu berbentuk sambungan beberapa kain, dan tak ada bagian asli dari kaus kakinya yang tersisa.

Masihkah kaus kaki itu bisa disebut kaus kaki Locke?


Sudah mulai pusing? Coba perhatikan contoh modifikasi dari kasus kapal theseus ini:

Misalkan kapal Theseus terbuat dari dan hanya dari 1000 batang papan. Setiap harinya satu papan dilepas dan diganti dengan papan yang baru. Dalam 1000 hari kapal itu sepenuhnya terbuat dari papan yang baru.


Gambar dari presentasi Jennifer Wang


Misalkan papan yang dilepas tiap harinya dari kapal Theseus itu dipergunakan untuk membuat kapal baru yang SAMA PERSIS dengan kapal Theseus. Kapal manakah yang cocok disebut Kapal Theseus?

Apakah kapal pertama yang tiap bagiannya diganti setiap hari?

Apakah kapal kedua?




Beberapa cerita yang pernah kutulis juga kurang lebih sama. "Ambil suatu kisah sebagai acuan utama, tambahkan poin dari kisah lain"

Misal aku mengambil tokoh X sebagai tokoh utama. X sendiri adalah tokoh yang memang benar ada di dunia nyata. Cerita yang ditulis menjelaskan apa yang 'mungkin' dirasakan si X, tetapi melalui pemikiranku. Dan ujung-ujungnya, ditambah beberapa poin lain.


Masihkah itu bisa disebut kisah tentang si X?





Yogyakarta, 3 September 2015
"Untuk orang-orang yang kisah hidupnya kuambil, dan kukacaukan"

Baca Selengkapnya....

Kamis, 27 Agustus 2015

Gift #2: Prosopagnosia = Face Blindness = Buta Wajah

Prosopagnosia


Nama itu mungkin terdengar asing di telinga kalian. Memang, nama ini masih jarang diketahui khalayak ramai. Beruntunglah kalian karena aku akan berbagi sedikit ceritaku disini, menjelaskan tentang makhluk gaib ini.

Prosopagnosia adalah gabungan dua kata bahasa yunani: "prosopon" yang berarti "wajah", "agnosia" yang berarti "tidak mengenali". Bahasa kerennya adalah Face Blindness - Buta Wajah. Singkat cerita, kau tidak bisa mengenali seseorang dari wajahnya, even their own face.


Belum kebayang? Coba lihat gambar-gambar dibawah ini




Kenal ama orang-orang itu? Coba kita balik fotonya:





Yang pertama itu Brad Pitt (Mr & Mrs Smith), yang kedua itu Keanu Reeves (The Matrix), yang ketiga itu Rowan Atkinson (Mr Bean)

Agak susah untuk mengenali kalau wajahnya terbalik, kan? Ini adalah pendekatan paling mudah bagi orang normal untuk merasakan apa yang dirasakan penderita prosopagnosia.

Awalnya kupikir ini kondisi normal. Kupikir orang-orang lain juga mengenali seseorang bukan dari wajahnya, tapi dari ciri fisiknya. Tapi makin kesini aku akhirnya mengerti bahwa aku berbeda.

Lalu bagaimana cara kami mengenali orang? Cara paling gampang adalah ornamen yang digunakannya. Entah itu model dan gaya rambut, warna bingkai kacamata, atau dari baju yang biasa dipakai.

Cara tersebut tentu saja tidak efektif. Pernah suatu ketika seseorang menghampiri dan berbicara kepadaku. Aku tentu saja bingung karena tidak merasa mengenalnya, tetapi dia berbicara dengan begitu akrabnya. Seakan-akan kami sudah kenal lama. Melihatku bingung, dia lalu mengikat rambutnya ke belakang membentuk ponytail. "Ini gue, woi". Disitulah aku baru bisa mengenalinya.

Terus dia lepas lagi ponytailnya. Pasang lagi, lepas lagi. Pasang lagi, lepas lagi. Disitu ada perasaan unik yang sulit dijelaskan melalui kata-kata; orangnya tetap diam disitu, namun kau merasa bahwa kenal dan tidak mengenalnya secara bergantian.

Itu satu. Pernah juga ada kejadian kayak gini:
Hari ini jadwal kuliahku penuh dari pagi sampai sore. Pagi itu setibanya di lingkungan kampus, tiba-tiba aku berpapasan dengan seseorang, yang kemudian dicurigai adalah dosen. Ia pun berkata "Eh kuliah kita nanti ditiadakan, yah. Saya ada urusan mendadak. Tolong jangan lupa kasih tau teman-temannya yang lain", lalu dia berlalu begitu saja.

Jreeeng.
Itu tadi siapa?

Oleh karena itu, aku juga sering dicap sebagai orang yang sombong. Hanya karena aku tak menyapa seseorang pada saat berpapasan di jalan. Sebenarnya itu terjadi bukan karena sombong, cuma karena aku tak mengenali wajahnya.

Kejadian-kejadian diatas itu masih kurang greget. Kejadian dibawah ini jauh lebih greget.

Saat itu teman-temanku sudah mengetahui bahwa aku agak susah mengenali seseorang kalau hanya dari wajahnya saja. Suatu hari mereka iseng-iseng mengetesku.

Mereka membawa beberapa lembar foto wajah yang sudah mereka edit. Yang tersisa di foto itu hanya tinggal bagian wajah, persis seperti gambar-gambar yang kulampirkan diatas. Tentu saja habis itu mereka menyuruhku untuk menebak-nebak.

"Coba tebak ini siapa. Ini masih salah seorang dari kita-kita yang ada disini, kok"

Aku dengan malas menebak siapa yang ada di foto tersebut, dan beberapa foto lainnya. Ini sama saja seperti orang awam disuruh baca hieroglif mesir, percuma. Setiap aku salah menebak, mereka menertawakan jawabanku. Kalau bukan karena mereka sobat dekatku, mungkin saat itu aku sudah marah.


"Ini yang terakhir. Kali ini spesial, orangnya kamu pasti kenal baik. Tapi, bukan salah satu dari kami"

Astaga. Yang biasa aja susah, apalagi yang spesial kayak gini. Dengan lebih malas aku menyebutkan beberapa nama, sampai akhirnya aku kehabisan nama untuk disebut.

"Nyerah, deh. Jadi yang ini siapa?" keluhku.
"Yakin? Beneran lu juga ga kenal ama yang satu ini? Coba lagi dah", desaknya.
"Udah, mentok", keluhku lagi.
"Ini... foto... Ibumu", ucapnya pelan.

Siiing. Hening.

Seketika itu juga aku terdiam. Mataku masih memandang lekat pada foto yang terpampang di meja itu. Perlahan aku menjulurkan tanganku untuk mengambilnya. Kudekatkan foto itu ke mataku, untuk mencari ciri-ciri yang menyatakan bahwa itu adalah benar ibuku. Sejurus kemudian, aku menyerah. Aku tetap tidak bisa mengenalinya.

Foto itu masih kupandangi lekat. Aku merasa durhaka. Bayangkan saja, kau tidak bisa mengenali seseorang yang membesarkanmu dengan sabarnya. Rasanya seperti kau tidak menghargai pengorbanannya. Akupun ikhlas kalau saat itu juga dikutuk menjadi batu seperti Malin Kundang.

"Oh...", ucapku pelan, datar.

Aku tertunduk, berusaha keras menahan agar air mataku tak sampai mengalir.

Hari itu aku menyadari betapa irinya aku pada teman-temanku yang normal.


-------------------------------------------------

Yo, here we meet again.

Pertama kali gue kenal ama yang namanya prosopagnosia ini pas maen 9 Hours 9 Persons 9 Doors. Terus karena penasaran, akhirnya browsing2, dan akhirnya gue berpikir "Ini musti disebarkan! Orang-orang harus tahu!"

Jadi, setelah ini semoga kalian sadar bahwa di dunia ini ada yang namanya prosopagnosia. Dengan begitu diharapkan kalian bisa memahami bahkan menerimanya. Ultimately, I hope we can find workaround for this problem since there is no treatment available for it right now.

Oh, gambar-gambar diatas diambil dari sini



Yogyakarta, 27 Agustus 2015

Baca Selengkapnya....