Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2016

Double Standard

Double standard atau biasa disebut standar ganda. Pernah mendengar istilah ini?

Ya, standar ganda disini maksudnya adalah memperlakukan sesuatu secara berbeda (cenderung tidak adil) kepada orang yang berbeda.

Standar ganda adalah sebuah logical fallacy alias cacat-pikir yang seharusnya dihindari. Begini contoh cerita standar ganda:


Pada jaman dahulu kala, alkisah ada 3 orang yang pergi ke bioskop. Sebut saja mereka Ksatria, Putri, dan Pengharum Ruangan. Pengharum Ruangan adalah orang yang sensitif terhadap gangguan. Jika dia sedang berada di mode 'serius', humming dari seseorang pun mampu memecah konsentrasinya dan membuatnya kesal. Di sepanjang film, si Putri banyak sekali mengomentari kejadian-kejadian yang ditampilkan. Pengharum Ruangan pun merasa terganggu. Sebagai sesama penikmat film, Pengharum Ruangan bingung kenapa sang Ksatria tidak merasa terganggu.

Beberapa tahun berselang, akhirnya terjadi kejadian menarik. Pengharum Ruangan pergi menonton film bersama Obat Nyamuk. Di sepanjang film, Obat Nyamuk juga sering mengomentari scene di film. Anehnya, kali ini Pengharum Ruangan tidak merasa terganggu dan malahan tersenyum-senyum sendiri.

Setelah mereka pulang, Pengharum Ruangan pun tersadar bahwa dia baru saja mempraktikkan standar ganda.

Pengharum Ruangan akhirnya mengerti mengapa sang Ksatria tak merasa terganggu dengan celotehan Putri sepanjang film.

"Kalau yang tiap hari nge-humming itu adalah Obat Nyamuk, mungkin aku juga tak akan merasa kesal," pikir Pengharum Ruangan.

TAMAT


Yogyakarta, 30 Maret 2016
"On my way to slacking-off land"

Baca Selengkapnya....

Senin, 28 Maret 2016

Informasi

"Di antara 'informasi yang didapat dari menerka-nerka' dan 'informasi yang didapat langsung dari sumbernya' terdapat sebuah jurang pemisah yang sangat besar"


Bayangkan sebuah kondisi:
Kamu sedang mengikuti SNMPTN. Karena sudah belajar dengan sangat keras, saat mendapatkan lembar soal, terbesit di pikiranmu "Ini serius soalnya kayak gini?!". Pada akhirnya kau hanya memerlukan 75% dari waktu yang diperlukan, sementara peserta lain menyesapi setiap detiknya hingga detik terakhir. Terlepas dari seluruh rasa percaya diri itu, di ujung pikiranmu ada secuil rasa khawatir karena masih ada kemungkinan gagal.

"Bagaimana jika soal-soal itu penuh jebakan? Semua yang terlihat mudah sebetulnya hanyalah tipuan"
"Bagaimana jika 'uang persembahan' untuk kampus dinilai kurang?"

Dan akhirnya malam-malam mu dihiasi mimpi buruk karena khawatir.

Setelah nomor pesertamu terpampang di koran nasional, akhirnya mimpi-mimpi buruk itu berakhir.



Contoh kasus kedua:
Di waktu yang agak mepet, kamu mengajukan permohonan visa. Karena kamu malas pergi ke kedubes, akhirnya kamu menggunakan jasa tour travel. Pihak tour travel menyanggupinya, dan berkas-berkas yang diperlukan pun diberikan kepada mereka. Pihak tour travel memberitahukan bahwa kabar terbarunya akan didapat sekitar seminggu sebelum keberangkatan.

Selama penantian itu, dirimu merasa was-was. Walaupun beberapa orang telah meyakinkanmu bahwa selama dokumennya lengkap, permohonanmu tak akan ditolak. Namun di ujung pikiranmu tetap terbesit rasa khawatir. Pasalnya, tak mungkin lagi mengajukan ulang permohonan dalam kurun waktu seminggu yang tersisa.



Contoh kasus ketiga:
Setelah mengamati gerak-gerik seseorang selama kurun waktu beberapa bulan, antenamu menangkap sedikit sinyal-sinyal aneh. Asumsimu menyimpulkan bahwa orang itu menyukaimu. Beberapa teman dekatnya juga meng'iya'kan asumsimu itu. Tapi bagi pikiranmu, ini tetaplah hanya sebuah asumsi. Semua perlakuanmu kepadanya tetap tak berubah.

Akan tetapi, akankah semua itu tetap seperti semula seandainya jurang itu tertutup? Saat yang tadinya 'asumsi' menjelma menjadi sebuah 'fakta' yang valid. Saat tiba-tiba dia berkata "You do notice and realize that I like you, right?"



Yogyakarta, 28 Maret 2016
"Nge-random pagi-pagi. Hindsight bias?"

Baca Selengkapnya....

Senin, 21 Maret 2016

Goceng

"Makasih, Wam"
"Goceng"
"Goceng doang, nih?"
"Segitu (goceng) aja belom ada yang pernah bayar, loh"

Setelah bertahun-tahun percakapan seperti ini berlangsung kepada beberapa orang, akhirnya dapet balasan 'agak' serius:
"Huahauhaahahaa. Oke guwa bayar!"

Besoknya langsung terima selembar goceng:



Sayang gak ada tanda tangan, cap jari, ato cap bibir.


Besoknya lagi, ada paket datang dari Banda Aceh. Didalamnya juga ada ini:



Chronologically, yang dari Aceh dikasih duluan. Persis sehari sebelum dapat balasan 'agak' serius itu. Tapi yang dari Aceh nyampe nya belakangan. So, it's still number 2 :p

Baca Selengkapnya....

Selasa, 15 Desember 2015

Fate #0

Hari ini last day buat Senior Manager paporit kantor Jogja; pak Argo. Dan kita berencana memberi kenang-kenangan. Salah satunya adalah ucapan dari masing-masing karyawan.

Kertas A4 200gr dibagi 2 jadi kertas A5. Diberikan kepada masing-masing karyawan untuk ditulisi ucapan. Apapun. Setelah itu dijilid menjadi satu, semacam buku.

Kebetulan hari itu lagi 'lelah'. Bongkar-bongkar isi harddisk nyari anime yang "fuwa-fuwa". Satu episode Toradora, satu episode Chihayafuru, satu episode Hanasaku Iroha, dan satu episode Nodame Cantabile.

Pas malam menjelang tidur tiba-tiba ingat belom mikirin tulisan apa yang bakal dikasih.

Terus ingat ama satu anime dengan gaya penceritaan favorit; Mawaru Penguindrum. Episode 1 nya dimulai dengan kalimat "I hate the word 'fate'" oleh tokoh A, dan episode 2 dimulai dengan kalimat "I love the word 'fate'" oleh tokoh B.

Karena dulu juga sempat mikir mau bikin cerita tentang 'fate' ini dari dua sudut pandang, dan belom kesampaian, akhirnya diputuskan ditulis menjadi ucapan buat pak Argo.

Berikut salinannya:



I love the word "fate"
Encounters and partings are part of it
Those things are not just coincidences
They are definitely... fate


It's hard to accept that partings beyond your control are fate
But this is what I think: sad and painful things definitely happen for a reason
Nothing in this world is pointless


Thank you for these wonderful years
May fate make our paths cross again in near future
Godspeed


Dan ini hasil tulisannya di kertas A5


Ketinggalan 1 kalimat T_T

Ditulis pake pulpen Pilot Frixion Ball Slim 038 warna biru. Menulisnya pun sambil gemetaran, karena (kayaknya) pertama kalinya bikin tulisan rapiiiiiii kayak gini. Thank God pulpennya bisa dihapus *uyeeeeeeee*



Semoga abis ini lancar inspirasi buat bikin Fate #1 sama Fate #2.
Cya~

Baca Selengkapnya....

Selasa, 03 November 2015

Random Image


Di suatu siang yang panas tiba-tiba dapet ginian~ :3

Baca Selengkapnya....

Senin, 26 Oktober 2015

待ってる

When the sun starts to set
I get up and grab my bag
Deliberately follow this road
Your home, your place, your heaven

After series of crossroads
Night completely blankets our sky
Air is colder, gentle wind breeze through my hair
Polaris and his friends cheering from above

Raise my speed, start running
I feel my heart skips some beats
"This is okay. This is alright"
And I keep on dragging my feet

Kneeling
As I tired from this journey
Reminding myself it will be beautiful someday


Never a single night, not even tonight
I ever forget to bring your name
As I raise my hands to heaven


Yogyakarta, 26 Oktober 2015
"あの 春 で 待ってる"



Baca Selengkapnya....

Rabu, 21 Oktober 2015

Writer Thingy, Maybe


May I consider myself as a writer? :D

Baca Selengkapnya....

Jumat, 09 Oktober 2015

The Walk + Random Rant

Beberapa hari yang lalu nonton pelem baru yang judulnya The Walk. Ceritanya ada seorang pria yang pengen berjalan diatas tali yang membentang diantara gedung kembar World Trade Center di New York. Katanya sih diangkat dari kisah nyata.



Oke sekip.

Karena ini adalah tindakan yang jelas-jelas ilegal, maka orang 'gila' itu pastinya perlu bantuan beberapa orang untuk mempersiapkan atraksinya itu. Singkat cerita, terkumpullah beberapa orang yang bersedia membantu. Uniknya, salah seorang diantara mereka takut ketinggian, sebut saja namanya Jeff. Si Jeff inilah yang akan jadi topik kali ini.

Gue kenal sama orang yang takut ketinggian. Dan orang itu pernah kita paksa buat naik cable car ke Sentosa Island. Sepanjang perjalanan dia cuma nunduk sambil nutup mata. Kalo keretanya goyang dikit aja, dia udah panik setengah mati.

Oke balik lagi ke film. Buat apa orang yang takut ketinggian ngebantu orang 'gila' buat nyebrangin gedung WTC, gedung tertinggi di dunia (saat itu)? Apa yang bikin dia mau ngebantu masang tali di puncak gedung itu? Padahal di film sempat ditampilkan dia naik ke lantai 2 atau 3, dan udah ga berani liat kebawah. Apa ga pingsan itu kalo naik ke lantai 110?!

Ada beberapa anggota tim yang akhirnya berhenti membantu karena mereka ga yakin sama ini orang 'gila'. Tapi si Jeff ini tetap ngebantu sampai akhir. Sesuatu!

Sepanjang film, gue sambil mikirin ini alasan. Dan sampai akhirnya ini film memasuki babak akhir dimana sang tokoh utama mulai menjejakkan kakinya diatas tali.

Saat orang 'gila' itu mulai berjalan, si Jeff ini dengan girangnya berjoget-joget. Dengan gaya yang ga jelas dia berjoget sesukanya, seenaknya, sekenanya.

Dan gue tiba-tiba tetawa, karena gue ngerasa ngeliat cerminan diri gue di Jeff. Dia sebagai seseorang yang takut ketinggian, ingin membantu orang yang begitu menyukai ketinggian untuk mencapai mimpinya. Dengan cara begitu, mungkin dia bisa merasa lebih 'dekat' dengan apa yang tidak bisa dia capai.


Gue ga bisa ngegambar, otak kanan macet. Beberapa waktu yang lalu ngasih buku mewarnai ke satu orang, lalu satu orang lagi, dan satu orang lagi. Yep, tiga buku mewarnai yang sama ke tiga orang berbeda. Dan gue bahagia melihat mereka semua (beberapa, mungkin) bahagia.



Seperti biasa, awalnya ada yang pamer buku. Lama berselang, ada yg pamer cat air. Kasih satu. Ada yang pamer crayon, kasih satu. Ada yang terpengaruh melihat hasilnya setelah diwarnai, kasih satu. Dan voila, inilah hasilnya.

T1

T2

T3

Emeijing, aren't they?


Kalo ini dari yang pertama pamer buku.


Mungkin kalo emosi itu tak terbendung dan meluap keluar, gue udah joget-joged ga jelas kayak si Jeff. Saking girangnya.


Want to be the next who has the coloring book? *smirk*


P.S.: I am waiting for the next page, guys :p

Baca Selengkapnya....

Kamis, 01 Oktober 2015

Me Time

Malam ini bulan terlihat bulat sempurna. Ukurannya pun lebih besar daripada hari-hari biasa. Warnanya kuning agak kemerahan, sangat mempesona. Fenomena ini disebut supermoon.



Sedari kecil aku sudah tertarik dengan kondisi langit di malam hari. Hal ini dipicu oleh tanteku yang sempat menghadiahiku buku tentang peta bintang, dan kampung halamanku yang jauh dari keramaian dan polusi cahaya. Jadinya sedari kecil aku sudah mengetahui beberapa rasi bintang yang mudah dikenali seperti Salib Selatan, Orion, dan Scorpio.

Ditemani seperangkat MP3 Player dan Headphone, malam itu aku memanjat ke atap. Kumainkan Violin Concerto gubahan komposer-komposer terkenal seperti Bach dan Beethoven, lalu berbaring menatap langit malam.

Aku begitu menyukai suasana malam hari. Cahaya bulan yang remang-remang, bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit, angin malam yang lembut menerpa kulit, keheningan malam yang menenangkan, semuanya bersatu padu menciptakan dunia yang begitu kunikmati. Dunia dimana dengan memasukinya saja, segala penat dan beban pikiran yang kualami serasa terangkat. Plong.

Senyum tersungging, hati berjingkrak, sekuat tenaga menahan diri agar emosi itu tidak meluap keluar.




Yogyakarta, 1 Oktober 2015
"Me Time"

Baca Selengkapnya....

Minggu, 20 September 2015

Pantas



Sebenernya gue ngerasa agak kurang paham juga ama kata 'pantas' ini. Tapi dicoba dijawab lah yah.


Ini, ribet. Karena sejatinya kata 'pantas' itu amat tergantung pada pandangan masing-masing orang, dan biasanya bakal berbeda kriteria 'pantas' untuk orang yang satu dengan orang yang lain.

Contoh pertama,
Misalkan tokoh utama kita kali ini adalah seorang juara gundu nasional dari negara tetangga. Ketika ada seorang juara tingkat RT nantangin doi main gundu, doi bakal mikir "apa apaan ini baru juara tingkat RT belagu nantangin juara nasional. Gak level!"

Coba kita tengok apa yang mungkin dipikirin si juara RT.
"Gue udah jadi juara di daerah gue. Gue udah cukup kuat! Sekarang saatnya menjajal lawan tanding baru. Wah, kebetulan ada turis yang lagi mampir ke rumah tetangga. Mari kita jajal"

Juara nasional menganggap juara RT bukan lawan yang pantas buat dia.
Juara RT menganggap juara nasional sebagai lawan yang cocok buat dia.
Itu pun baru dilihat dari satu atribut; skill gundu.

Oke kita beralih topik dari gundu ke masalah yang lebih pelik, jodoh (ISFJ FTW~)

Ini lebih runyam lagi karena atributnya lebiiih banyak. Kita coba ambil contoh 4 yang utama: kecerdasannya, hartanya, garis/silsilah keturunannya (fisik), agamanya.

Nah, disinilah pandangan masing-masing pribadi mulai menentukan.

Misal ada sepasang muda-mudi, sebut saja Ani dan Budi.
Ani ini orangnya pinter ga ketulungan, kondisi keuangan menengah kebawah, keturunan entah, fisik ga cakep-cakep amat, agama pas-pasan. Preference jodoh: yang kaya dan ganteng. Biar memperbaiki keturunan.
Budi ini ijazah SMA, S1, dan S2 nya nembak, jabatan sekarang CEO perusahaan warisan bapake, muka kaya artis drama kroya, agama menengah kebawah. Preference jodoh: yang pinter. Biar kalo punya anak, anaknya ga tersiksa kayak doi yang bebal.

Apa yang terjadi kalo keduanya ketemu?
Ani mungkin bakal mikir: "pas banget nemu orang ganteng nan sugih. S2 pulak, aduh pinternya. Cucok deh cyin"
Budi mungkin bakal mikir: "nah, ada cewek pinter. Gapapa lah yah dia agak kurang berduit, gue udah banyak duit ini, ga habis 7 turunan. Parasnya yaaa so-so lah yah, its okay. Sip, ambil"

Si Ani pantas untuk Budi karena kepintarannya, si Budi pantas untuk Ani karena duit dan keturunannya.


Itu kalo kriteria yang dicari dan yang ada disuguhkan jelas. Gimana kalo kriteria nya aja ga jelas?
Cara paling gampang biasanya mengira-ngira, dengan apa yang kita miliki sebagai perbandingan.
"Ah, mukanya biasa aja. Ga ganteng, ga jelek. Sedang-sedang ajalah, sama kayak gue"
"Ah, otaknya ga encer-encer amat, ga jauh-jauh ama gue"
"Ah, tingkat ketaatannya 11-12 sama gue"
Yang sekiranya se-level, lah.

Dengan kata lain "aku pantas untukmu karena atribut kita ga beda jauh". Ini (mungkin) yang biasa dibilang orang "memantaskan diri", alias naikin atributnya biar jadi lebih tinggi ato paling gak setara.

Jangan lupa, bisa jadi ada kejadian gini:
"Aah. Dia orang kaya, gue orang miskin. Mana pantas gue buat dia"
Padahal mungkin aja calon pasangannya ga mikirin masalah harta. Mungkin.
"Aah. Gue mah naik sepeda aja ga bisa :("
Padahal mungkin aja calon pasangannya menganggap itu 'unyu'. Mungkin.


Buat kasus "lo suka, maka semua yang ada di dia pantas bagi lo", gue jawab pake pertanyaan:
Mungkinkah kau bisa menyukai seseorang, kecuali kau sudah menerima segala kelebihan serta kekurangannya?



Jadi gimana caranya memantaskan diri kalo kriteria nya aja ga tau, dan kayak yang dibilang diatas, semua tergantung masing-masing orang?

Itu... harusnya jadi lebih gampang. Karena kriteria (atribut) orang lain termasuk hal ghaib, ya tinggal perbanyak doa. Jangan lupa Ikhtiar.

atribut mana yang mesti dikuatin? Ya 4 atribut itu.
Kecerdasan, ya banyakin belajar.
Harta, ya rajin-rajin nyari duit.
Fisik, ya dandan/nge-gym.
Agama, ya banyakin ikut pengajian.

Yang jadi masalah adalah, ngomong doang mah gampang. Eksekusi nya yang setengah mati buat naikin atribut nya. Dan lagi kalaupun naikin atribut nya itu gampang, you must know when to stop, or you will be over-leveled.
Calon pasanganmu yang bakal keder kalo atribut mu ketinggian.

Kalo calon pasangan yang diincer sudah ada di depan mata, simpelnya, biar sama-sama merasa pantas satu sama lain adalah menyamakan tinggi point atribut masing-masing pribadi.

That's why a good observation skill is a must, so you know how high his/her attribute is, so you can make your attribute into right amount of point to match his/her.

Kurang jelas? Ada pertanyaan?

Baca Selengkapnya....

Selasa, 25 Agustus 2015

Balada Anak Muda 2015


Tiba-tiba kemaren dapet beginian :)

Baca Selengkapnya....

Jumat, 21 Agustus 2015

Segelas Kopi dan Sebungkus Perasaan

Dua orang itu perlahan memasuki warung kopi yang penuh. Agak ragu, keduanya berjalan pelan ke arah counter sambil celingak-celinguk, mencari-cari tempat duduk yang kosong. Selagi menunggu pesanan mereka jadi, salah seorang dari mereka melihat sepasang sofa kosong di pojok. Mereka berjalan dengan agak tergesa-gesa. Khawatir didahului orang lain.

Mereka berdua melepaskan jaket yang dikenakan lalu meletakkannya di sofa itu, penanda bahwa sofa itu sudah terisi.

Tak lama kemudian keduanya kembali dengan membawa kopi di tangan masing-masing.

"Jadi apa kabar lo dengan Mbaknya?"

"Asem. Baru aja ketemu udah langsung main tembak aja. Pelan-pelan laah"

"Seharian ini gue udah dengerin curhatan dua orang. Yang satu udah menelepon pagi-pagi, yang satu lagi menelepon 5 jam. Malam ini gue khususkan datang jauh-jauh buat dengerin curhatan lo lah. Makanya, buruan cerita!"

"Ga ada progress lebih lanjut. Masih jalan di tempat. Malahan berasa mundur perlahan," jawabnya sambil agak tertunduk.

"Udaah. Kalo gitu lo ama Zahra aja"

"Lah? Kok jadi ama Zahra?"

"Abisnya lucu. Kalo gue liat lo lagi ama dia rasanya cocok aja. Lagipula dia juga tipe lo, kan?"

"..."

"Jadi kapan mbaknya nikah?"

"Ya mana gue tau. Ga berani nanya gituan ke dia. Masalah sensitif soalnya"

"Kalo gitu, siapa calonnya?"

"Itu juga ga tau. Sama, ga berani nanya juga."

"Cih. Padahal gue setuju banget kalo lo jadi ama mbaknya"

"Nah, kan. Lo aja setuju, apalagi gue"

"Kalo cewek yang dapet kabar kayak gitu, pasti dia udah nangis-nangis sambil curhat ke sobatnya. Jadi, sekarang perasaan lo gimana?"

"Tiga bulan ini biasa-biasa aja, sih"

"Hoo. Jadi udah move on, nih?" godanya sambil tersenyum.

"Kalo dibilang move on sih kayaknya belum"

"Kalo gitu,, udah nemu yang baru berarti ya?"

Dia mengaduk-aduk kopinya, lalu menyeruputnya sedikit.
"Ummm... Kayaknya iya"

"Hooooooo?! Cerita. BURU!!"

Dia menyodorkan smartphonenya. Layarnya menampilkan foto seorang laki-laki dan dua orang perempuan.

"Hmm. Pasti yang ini, kan?" ujarnya sambil menunjuk yang berkerudung merah.

"Kok tau?" sahutnya setengah terkejut.

"Ya iyalah. Lo pikir udah berapa lama gue kenal ama lo, hah? Gue tau fetish lo tuh yang kayak gimana. Siapa namanya?"

"Ini," dia menyodorkan smartphonenya lagi. Kali ini layarnya menampilkan sebuah media sosial. "Kalo namanya susah diingat, sebut saja Skullgreymon"

"Halah. Pake nama digimon yang 'unyu'an dikit, napa."

"Ada sejarahnya ituuu. Kali ini terima aja, ya"

"Jadi sudah sejauh mana lo ama si Skullgreymon ini?"

"Hmm. Yang paling privat sih cuma pernah nonton berdua, makan berdua."

"Wow. Kalo yang rame-rame?"

"Jalan-jalan, karaoke, makan, nonton, dan teman-temannya lah"

"Waaah. Ini mah progress gede buat lo. Biasanya kan malu-malu gimanaaa gitu. Terus sekarang?"

"Sama. Jalan di tempat"

"Bwahahahaha," dia terbahak.

"Heh, lo ketawa aja. Lo ama 'Abah' kan juga sama, pret"



Keduanya melanjutkan pembicaraan random mereka. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Meninggalkan dua cup kopi kosong yang bertuliskan nama Ratna dan Roy.





------------------------------------------------------


Yahoooooo. Ketemu lagi.

Kali ini gue nyoba nulis percakapan. Dan, kesimpulannya: SUSAH.

Selain mikirin kata-kata dan gaya bicara tiap orang, menyampaikan ide nya pun agak susah. Dan yang paling susah adalah "Abis ini musti nulis apa ya buat pelengkapnya". Musti belajar lebih banyak lagi buat gaya yang satu ini

Ide cerita awalnya adalah dari salah satu hobi gue; eavesdropping. Ceritanya di sebuah warung kopi kenamaan, ada seseorang duduk sendirian dan tiba-tiba ada sepasang pelanggan lain dateng dan duduk tepat di sofa sebelahnya. Mereka bercakap-cakap, dia mendengarkan sambil pura-pura ga dengar. Idenya sih, begitu.

Awalnya juga, cuma niat bikin cerita pendek sependek pendeknya. Tapi, apalah daya mereka tiba-tiba jadi rada panjang kayak gini. Udah panjang pun, masih vague dan GANTUNG. Hahahahasem.

Mungkin nanti gue bakal coba bikin cerita yang lebih pendek dan lebih jelas.


Anyway, here I lay my pen down.




Yogyakarta, 21 Agustus 2015
"For me, myself"

Baca Selengkapnya....

Rabu, 19 Agustus 2015

Gift #1; Hadiah

Kalian pasti pernah menerima yang namanya hadiah. Baik dari teman, orangtua, guru, bahkan dari panitia lomba atau kuis. Bentuknya pun bisa bermacam-macam, dari benda yang dapat dipegang, sampai sesuatu yang abstrak namun tetap bermakna. Disini akan dicoba membahas tentang hadiah, tentunya berdasarkan pemikiran pribadi :D


Pertama, apa sih hadiah itu? Hadiah adalah sesuatu yang diberikan oleh si A kepada si B, dengan disertai maksud tertentu misalnya:
- Memperingati suatu event: kelulusan, kenaikan pangkat, ulang tahun, dll
- Mempererat silaturahmi
- Balas budi
- Mengharapkan simpati si B
- Sogokan, kompensasi tutup mulut, dan teman-temannya


Namun tujuan utama setiap hadiah masih tetap sama: membahagiakan penerimanya.

Bilang kalian ga bahagia pas nerima hadiah, apalagi kalo hadiahnya dari orang tersayang *suitsuit*, misalnya orangtua :p *tee hee*


Bentuk dari hadiah itu sendiri ada bermacam-macam. Mulai dari kelas harta (rumah, mobil, motor, dan barang mahal lainnya), kelas benda (hasil DIY, buku, keychain), sampai kelas abstrak (lagu, gambar, puisi, senyuman). Masing-masing bentuk punya kegunaan khususnya sendiri.

Misalnya untuk kelas harta, sangat berguna kalau dijadikan bahan sogokan ataupun buat menarik jodoh. Sampai-sampai ada istilah 'Jimat Jepang', yang secara kasar bisa berarti kendaraan bermotor buatan jepang (kan merk nya banyak, tuh. Mulai dari Honda, Yamaha, Suzuki, Toyota, etc).

Untuk kelas benda cocok jika dijadikan oleh-oleh, hadiah ulang tahun, sampai hadiah kuis abal-abal.

Kelas Abstrak ini sesuai namanya, abstrak. Paling murah.

Walaupun tujuan utamanya adalah membahagiakan penerimanya, tetap saja tidak menjamin tujuan ini tercapai. Tingkat keberhasilannya sangat bergantung kepada preference si penerima. Misal, penerima adalah orang yang ga suka kucing, terus kau ngasih boneka kucing, ato lebih parahnya kucing angora. Ya disembelih itu kucing.

Faktor lain adalah harapan si penerima terhadap si pemberi. Misal si penerima mengharap kalau si pemberi bakal memberi Toyota Supra, ee tapi malah diberi Honda Supra. Besoknya si penerima pundung, padahal habis diberi hadiah. Ckck.


Untuk history memberi pernah ngasih ipod, figure dan sejenisnya, buku, strap, sampe stiker.
Sedangkan history menerima ada DIY 'treasure box', self-hand-painted t-shirt, figure dan sejenisnya, buku, botol minum, sampe alat tulis. Honestly, I prefer unique item, thus makes me loves 'DIY thingy' much more than anything.


Sekian sesi curcol

Baca Selengkapnya....

Jumat, 07 Agustus 2015

Questions and Lies

Aku terlahir di jaman yang salah.
Aku tumbuh di jaman yang salah.
Aku hidup di jaman yang salah.

Waktu itu umurku hampir menginjak 3 tahun. Entah kenapa Ibuku memutuskan untuk memasukkanku ke Taman Kanak-Kanak. "Numpang duduk", itu istilah mereka saat itu. Yep, itu karena mereka menganggap anak umur 3 tahun belum mampu menerima pelajaran untuk anak TK yang rata-rata berumur 4 tahun.

Setahun berlalu. Dari yang tadinya kelas Nol Kecil, aku pun ikut naik ke kelas Nol Besar bersama anak-anak lainnya. Setahun berikutnya saat mereka lulus dari TK dan masuk SD, akupun ikut masuk SD. Seorang anak TK yang tadinya "numpang duduk" berakhir masuk SD unggulan pada saat usianya hampir 5 tahun.


Begitulah dunia pendidikan kujalani. Aku selalu setahun lebih muda dari teman-teman sekelasku yang lainnya. Aku selalu menjadi yang termuda diantara teman-teman seangkatanku.


Mungkin karena hal itulah aku jadi punya cara 'khusus' agar bisa mendapatkan teman. Just like any other newborn ultimate weapon, cuteness.

Have you ever seen a kitten soooo damn cute and you just want to hug it? Or if you don't like felyne, you can change it to puppy or calf or another animal. Still no? How about newborn baby. Still no? Then I give up.


Pernah suatu hari waktu aku masih kelas 3 SD, guruku tak sanggup menahan hasratnya. Kebetulan waktu itu aku duduk di deretan paling depan. Sembari menjelaskan pelajaran, dia menghampiri mejaku.

"Coba kalian liat pipinya yang mulus ini", ujarnya sambil mencubit pipiku.

Tentu saja aku cuma diam. Saat itu aku masih kelas 3 SD yang tidak mengerti apa-apa. Polos.


Karena yang paling mudah terpengaruh oleh ke'unyu'an adalah perempuan, akibatnya daftar temanku kebanyakan diisi oleh orang-orang dengan jenis kelamin perempuan. Dan karena aku agak pendiam, maka aku agak susah berteman dengan anak laki-laki. Kalau dijadikan persentase, mungkin 70-30 lah.


Efek samping lainnya mulai terlihat pada saat aku menginjak SMA, saat para anak muda mulai mengenal yang namanya cinta.

Aku yang pendiam hampir tidak punya teman selain dari teman-teman sekelasku. Otomatis, orang yang kusuka juga berasal dari kelas yang sama. Sialnya, aku selalu lebih muda dari orang yang kusuka.

"Berondong". Istilah anak muda kekinian yang mengacu kepada seorang laki-laki yang lebih muda daripada pasangannya. Konotasi kata "berondong" sendiri lebih ke arah negatif. Kalau seorang perempuan punya pacar berondong, itu sama saja dengan aib.

Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan umurku, akhirnya berusaha mencari jalan keluar lain. Dan jawaban yang terlahir adalah persona. Aku menciptakan sebuah sosok lain dalam diriku, sosok yang lebih dewasa.

Ketika aku berusaha berkenalan dengan teman-teman baru, aku menonjolkan sisi 'anak kecil' ku.
Ketika aku ingin membuat mereka kagum kepadaku, aku menonjolkan sisi 'dewasa' ku.
Entah karena cara ini atau bukan, aku berhasil menjalin beberapa kali hubungan dengan menyandang status "berondong".


Suatu hari yang cerah di bangku kuliah aku bertemu dengan seseorang yang membuat duniaku lebih galau dari yang pernah terjadi.

Dia orang biasa, bukan orang yang punya bentuk tubuh ataupun wajah bagai artis. Dan seperti biasa, semua dimulai dengan 'ga ada apa-apa'.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin terlihat potensi aslinya. Yang pertama terlihat adalah koleksi buku nya.

"It's said that to understand someone, one just needed to look at their bookshelf." Rak bukunya, atau mungkin lebih cocok disebut daftar buku yang pernah dibacanya, dipenuhi dengan novel-novel masterpiece dari pengarang-pengarang kelas dunia. Tolkien, Tolstoy, you name it. Rata-rata judul buku yang belum pernah kudengar. Setelah kubaca salah satu diantaranya, akupun langsung menaruh hormat kepadanya.

Yang kedua adalah sifatnya yang juga bisa dibilang memiliki dua persona sepertiku. Dia punya sisi kekanakan yang kadang ditunjukkannya pada saat santai, dan dia juga punya sisi dewasa yang bisa diandalkan disaat serius. Aku serasa melihat cerminan diriku pada dirinya.

Yang ketiga adalah kelakuannya yang 'nyeleneh'. Tak jarang aku dijadikan kelinci percobaannya. Hanya untuk memuaskan hasrat ingin tahunya tentang cara berpikir manusia.

Terlepas dari segudang keunikan lain yang menyelimuti dirinya kuharap tiga poin itu bisa memberikan kalian gambaran yang jelas tentang seperti apa dia sebenarnya.

Dan kuputuskan untuk mengejarnya.

Karena dia satu tingkat diatasku, semuanya serasa lebih susah.

Pertama, bagaimana cara memanggilnya tanpa tambahan 'kak'. Seperti yang sudah kuberitahu diatas, "berondong" masih dianggap aib sampai saat ini. Kalau aku memanggilnya menggunakan tambahan 'kak' maka di benaknya akan tertanam kalau dia lebih tua dariku. Tapi kalau aku memanggilnya tanpa tambahan 'kak' maka aku akan dianggap tidak sopan dan kurang ajar. Karena itulah aku berusaha sebisa mungkin menghindari memanggilnya. Semua percakapan dilakukan tanpa aku pernah menyebut 'kamu' ataupun 'kak'.

Salah satu cara paling efektif adalah menggunakan 'you'; sebuah kata dalam bahasa inggris yang bisa digunakan kepada orang yang lebih tua tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun. Karena kalau mengucapkan kata-kata dalam bahasa inggris bisa memicu perhatian berlebih dari orang sekitar, akupun memutuskan hanya menggunakannya pada sesi chatting.

Setahun, dua tahun berlalu. Aku yang tadinya hanya berani menggunakan you, perlahan-lahan mencoba menggunakan 'kamu'. Aku yang tadinya hanya berani menggunakan 'saya' atau I, perlahan-lahan mencoba menggunakan 'aku'. Satu hal yang aku belum berani untuk mencoba; memanggilnya menggunakan namanya, Nana.

Singkat cerita kami berdua lulus kuliah dan melanjutkan hidup di kota terpisah. Dia kembali ke kampung halamannya di Jakarta dan melanjutkan kuliah S2 nya disana, sedangkan aku mendapatkan pekerjaan di Surabaya.

Suatu hari untuk pertama kalinya aku melakukan perjalanan dinas ke jakarta untuk bertemu klien. Langsung aku menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Akhirnya diputuskan kami akan bertemu siang itu di sebuah toko buku yang berjarak tidak terlalu jauh dari hotel tempatku menginap.

Toko buku yang katanya 'tidak terlalu jauh' tadi setelah dilihat-lihat berjarak sekitar 5KM. Sugesti 'tidak terlalu jauh' tadi jugalah yang membuatku memutuskan berjalan kaki di tengah terik matahari jakarta, berjalan sejauh 5KM. 'Tidak terlalu jauh' inilah yang membuatku membenci Jakarta.

Secapeknya (sesampainya) di toko buku yang telah dijanjikan, aku langsung mencarinya. Setelah menemukannya, diam-diam aku menghampirinya yang sedang serius melihat-lihat sebuah buku.

"Hei," sapaku tiba-tiba di belakangnya.

Dia menoleh kearahku, lalu lanjut membolak-balik halaman buku di tangannya. Tak lama kemudian dia menaruh buku itu kembali ke raknya, dan dia berjalan menjauh tanpa berbicara atau melihat kearahku.

Aku mengambil buku yang tadi dibacanya dan melihat-lihat isinya. Tak lama kemudian handphoneku bergetar. Ada pesan masuk darinya yang berbunyi:
"Lunch's on you".

Aku tersenyum simpul. Meletakkan buku yang kupegang kembali ke raknya lalu berjalan dengan santai ke kasir, tempat dia menunggu.

"Nih," ujarnya sambil menyodorkan Teh Kotak yang dibelinya di kasir. "Cuma orang bodoh yang mau jalan kaki sejauh itu di siang bolong kayak gini. Apalagi ini jakarta." sambungnya.

Aku cuma bisa tertawa kering.

Kami berdua pun pergi ke sebuah restoran yang terletak tak jauh dari toko buku itu. Kali ini beneran dekat, tak sampai 100 meter. Selama sesi makan siang itu aku merasa aku terlalu banyak memandanginya. Sedangkan dia seperti biasa, selalu mendominasi percakapan.

Setelah makan siangku selesai, dia pulang ke rumahnya dan aku kembali ke hotel. Kali ini aku tidak bodoh, aku memesan taksi.


Suatu hari, dia kembali melakukan percobaan psikologisnya kepadaku.
"if I coult grant you 3 questions to answer, what would you ask me?"

Jeger. Ini percobaan paling berbahaya sejauh ini. Di kondisi kayak gini, orang normal mungkin bakal nanya pertanyaan semacam "km suka sama aku ato gak?", "mau gak jadi pacar aku", atau "menurut km aku orangnya gmn?" ato sejenisnya. Tapi aku tau ini salah satu percobaannya, dan akhirnya aku sekuat tenaga menahan diri tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan normal itu, dan menanyakan pertanyaan lebih normal lainnya:

1. Would you answer my second question?
2. Would you answer my third question?
3. What would your answer be if I ask you to marry me?


Hey, I mean we already at that age where we do date seriously.
Many of our friends already married.
I have a job. I make more than I can spend by myself, alone.
I want you. As simple as that.

Salah seorang teman baikku pernah bertanya kepadaku:
"Pernahkah kau bertemu seorang perempuan, lalu sesuatu terlintas di benakmu; 'Dia pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku'?"
Kupikir saat ini aku telah menemukannya.


Balik ke pertanyaan tadi. Jawaban darinya:
1. Yes
2. Yes
3. Is that a serious question?


Daaaaaaaaamn. Why you mess up with the most important question! Aku terdiam. Aku yang tadinya sudah bersiap dengan jawaban Ya atau Tidak, jatuh. Tak sedikitpun pernah singgah di benakku kalau dia akan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain. KZL!!

Setelah sekian lama diam, akhirnya dia menjawab serius.

"I will marry someone soon"
"Whoa? That's new. Who might that lucky person be?"
"I can't tell you right now"

Saat itu juga aku merasa lelah. Aku cuma terdiam. Aku ingin cepat pulang dan kembali ke kasurku, segera tidur.

"Please don't be sad. I know you would ask something like that to me. And that's why I asked you that question in the first place. So you could be the first one to know that I am going to get married soon"

Aku masih diam.

"I don't know if this could make you feel better. But FYI, I adore you"

Aku hancur.

Orang bilang obat mujarab pasti pahit. Tapi ini terlalu pahit.
"Janganlah kamu meminang pinangan orang lain". Dengan berpegang teguh pada keyakinanan itu, aku berusaha mundur perlahan.


Setengah tahun setelah kejadian itu aku masih belum mendengar kabar rencana pernikahannya. Di ujung hati kecilku aku masih berharap bahwa apa yang dikatakannya malam itu adalah suatu kebohongan, white lie.

I do hope so.

------

Yeeey jadi juga. Semoga sesuai ama apa yang dibayangin kak Wulan :3

Tadi sore gue ngasih cerita Realize ke Tiara, dan komentarnya setelah baca adalaaah,, gue dibilang Alay -_-. Yaudah, sekalian aja diterusin. Jujur pas nulis ini gue berasa alay banget, te. Puas lo?

Kali ini minjem nama Nana tanpa ijin. Karena sesuatu dan lain hal, gue rasa nama ini cocok dipasang di cerita ini :)

Elemen pertanyaan pamungkas itu juga (rasanya) cuocok sekali dipake di tulisan ini, karena itu gue tambahin~

Anyway, enjoy :)



Yogyakarta, 6 Agustus 2015
"To everyone who lives on the wrong time"

Baca Selengkapnya....

Jumat, 24 Juli 2015

Respect

Pernahkah kalian begitu menghargai seseorang?
Public figure?
Orangtua?
Guru?
Teman?

Sebegitu besarnya penghargaan kalian terhadap mereka sampai-sampai beberapa bagian mereka merasuk ke diri kalian.
Caranya berbicara,
bertingkah laku,
melakukan sesuatu,
berpikir,
menulis,
tertawa.


Entah dengan cara yang kau sadari maupun tidak.
Nada bicaramu meniru nadanya.
Sikapmu meniru sikapnya.
Pola pikirmu mirip sepertinya.
Gaya menulismu pun terpengaruh gaya tulisannya.
Sampai caramu tertawa pun mirip.


Pernahkah kalian begitu menghargai seseorang?
Aku pernah.



Yogyakarta, 24 Juli 2015
"I hope I am worth your respect"

Baca Selengkapnya....

Kamis, 09 Juli 2015

Cemburu

Aku cemburu kepada orang tuamu
Mereka bisa mencintaimu dan kau pun mencintai mereka

Aku cemburu kepada saudaramu
Mereka bisa menyentuhmu kapanpun mereka mau

Aku cemburu kepada teman baikmu
Ketika kau bersama mereka, kau terlihat lebih bahagia

Aku cemburu kepada rekan kerjamu
Mereka bisa berinteraksi denganmu kapanpun mereka mau

Aku cemburu kepada temanmu
Mereka bisa bersikap normal kepadamu


Dan Tuhan cemburu kepadaku
Karena aku selalu memikirkanmu
Karena aku selalu menginginkanmu
Sehingga akhirnya Dia menjauhkanmu dariku


Disini aku menunggu
Jikalau kau membutuhkanku

Disini aku menunggu
Hingga 'dunia pertama' ini layu


-----------------------------------------
Bonus: Images taken from The World is Hetalia's facebook page











Yogyakarta, 9 Juli 2015
"For those who love in silence, for those who wait in patience."

Baca Selengkapnya....

Kamis, 21 Mei 2015

Spring

Winterstorm has ended
But last spring’s scent still remain
Like it’s only yesterday
Yet it’s actually far away

My heart is whispering
Whether I should enjoy this thing
My brain is smirking
Whether I could forget the last spring

While I look upon the window
I see many people enjoy this season
Then I think I know
I want this spring for me
Only me

Although this spring is rather cold
It still draw a smile on my face
Throw a smirk
Steal a glance
Enjoy every single bit of its time

Dear spring,
Let’s have a dinner
Enjoying this cherry blossom
And the smiling moon
Just you and I



Yogyakarta, 21 Mei 2015

“Sambil cengar-cengir baca puisimu”

Baca Selengkapnya....

Selasa, 10 Maret 2015

Rematch

Watching the hands of the time
Counting every round they take
Waiting for the line to come
As I murmur against it
"Hurry! Hurry!!" I plead

Here they come!

Secretly stole a glance to my left side
Wear a faint smile on my lips
Pretend to forget the time
As I murmur against it
"Slow down! Slow down!" I plead

To the moon, star, and light
In the west side of this huge peninsula
To the butterflies
In this stomach of mine
And to the world
In that being


As I enjoy this ephemeral fireworks
"Please, stop the time" I plead

Baca Selengkapnya....