Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2016

Informasi

"Di antara 'informasi yang didapat dari menerka-nerka' dan 'informasi yang didapat langsung dari sumbernya' terdapat sebuah jurang pemisah yang sangat besar"


Bayangkan sebuah kondisi:
Kamu sedang mengikuti SNMPTN. Karena sudah belajar dengan sangat keras, saat mendapatkan lembar soal, terbesit di pikiranmu "Ini serius soalnya kayak gini?!". Pada akhirnya kau hanya memerlukan 75% dari waktu yang diperlukan, sementara peserta lain menyesapi setiap detiknya hingga detik terakhir. Terlepas dari seluruh rasa percaya diri itu, di ujung pikiranmu ada secuil rasa khawatir karena masih ada kemungkinan gagal.

"Bagaimana jika soal-soal itu penuh jebakan? Semua yang terlihat mudah sebetulnya hanyalah tipuan"
"Bagaimana jika 'uang persembahan' untuk kampus dinilai kurang?"

Dan akhirnya malam-malam mu dihiasi mimpi buruk karena khawatir.

Setelah nomor pesertamu terpampang di koran nasional, akhirnya mimpi-mimpi buruk itu berakhir.



Contoh kasus kedua:
Di waktu yang agak mepet, kamu mengajukan permohonan visa. Karena kamu malas pergi ke kedubes, akhirnya kamu menggunakan jasa tour travel. Pihak tour travel menyanggupinya, dan berkas-berkas yang diperlukan pun diberikan kepada mereka. Pihak tour travel memberitahukan bahwa kabar terbarunya akan didapat sekitar seminggu sebelum keberangkatan.

Selama penantian itu, dirimu merasa was-was. Walaupun beberapa orang telah meyakinkanmu bahwa selama dokumennya lengkap, permohonanmu tak akan ditolak. Namun di ujung pikiranmu tetap terbesit rasa khawatir. Pasalnya, tak mungkin lagi mengajukan ulang permohonan dalam kurun waktu seminggu yang tersisa.



Contoh kasus ketiga:
Setelah mengamati gerak-gerik seseorang selama kurun waktu beberapa bulan, antenamu menangkap sedikit sinyal-sinyal aneh. Asumsimu menyimpulkan bahwa orang itu menyukaimu. Beberapa teman dekatnya juga meng'iya'kan asumsimu itu. Tapi bagi pikiranmu, ini tetaplah hanya sebuah asumsi. Semua perlakuanmu kepadanya tetap tak berubah.

Akan tetapi, akankah semua itu tetap seperti semula seandainya jurang itu tertutup? Saat yang tadinya 'asumsi' menjelma menjadi sebuah 'fakta' yang valid. Saat tiba-tiba dia berkata "You do notice and realize that I like you, right?"



Yogyakarta, 28 Maret 2016
"Nge-random pagi-pagi. Hindsight bias?"

Baca Selengkapnya....

Senin, 21 Maret 2016

Goceng

"Makasih, Wam"
"Goceng"
"Goceng doang, nih?"
"Segitu (goceng) aja belom ada yang pernah bayar, loh"

Setelah bertahun-tahun percakapan seperti ini berlangsung kepada beberapa orang, akhirnya dapet balasan 'agak' serius:
"Huahauhaahahaa. Oke guwa bayar!"

Besoknya langsung terima selembar goceng:



Sayang gak ada tanda tangan, cap jari, ato cap bibir.


Besoknya lagi, ada paket datang dari Banda Aceh. Didalamnya juga ada ini:



Chronologically, yang dari Aceh dikasih duluan. Persis sehari sebelum dapat balasan 'agak' serius itu. Tapi yang dari Aceh nyampe nya belakangan. So, it's still number 2 :p

Baca Selengkapnya....

Selasa, 15 Desember 2015

Fate #0

Hari ini last day buat Senior Manager paporit kantor Jogja; pak Argo. Dan kita berencana memberi kenang-kenangan. Salah satunya adalah ucapan dari masing-masing karyawan.

Kertas A4 200gr dibagi 2 jadi kertas A5. Diberikan kepada masing-masing karyawan untuk ditulisi ucapan. Apapun. Setelah itu dijilid menjadi satu, semacam buku.

Kebetulan hari itu lagi 'lelah'. Bongkar-bongkar isi harddisk nyari anime yang "fuwa-fuwa". Satu episode Toradora, satu episode Chihayafuru, satu episode Hanasaku Iroha, dan satu episode Nodame Cantabile.

Pas malam menjelang tidur tiba-tiba ingat belom mikirin tulisan apa yang bakal dikasih.

Terus ingat ama satu anime dengan gaya penceritaan favorit; Mawaru Penguindrum. Episode 1 nya dimulai dengan kalimat "I hate the word 'fate'" oleh tokoh A, dan episode 2 dimulai dengan kalimat "I love the word 'fate'" oleh tokoh B.

Karena dulu juga sempat mikir mau bikin cerita tentang 'fate' ini dari dua sudut pandang, dan belom kesampaian, akhirnya diputuskan ditulis menjadi ucapan buat pak Argo.

Berikut salinannya:



I love the word "fate"
Encounters and partings are part of it
Those things are not just coincidences
They are definitely... fate


It's hard to accept that partings beyond your control are fate
But this is what I think: sad and painful things definitely happen for a reason
Nothing in this world is pointless


Thank you for these wonderful years
May fate make our paths cross again in near future
Godspeed


Dan ini hasil tulisannya di kertas A5


Ketinggalan 1 kalimat T_T

Ditulis pake pulpen Pilot Frixion Ball Slim 038 warna biru. Menulisnya pun sambil gemetaran, karena (kayaknya) pertama kalinya bikin tulisan rapiiiiiii kayak gini. Thank God pulpennya bisa dihapus *uyeeeeeeee*



Semoga abis ini lancar inspirasi buat bikin Fate #1 sama Fate #2.
Cya~

Baca Selengkapnya....

Rabu, 21 Oktober 2015

Celana Pendek

"Eh, Wam. Mau ke sekre, ya?"

"Eh, Kak Ardi. Iya nih, kak. Malam ini anak baru disuruh ngumpul. Katanya ada briefing bentar. Kak Ardi sendiri habis dari sekre, ya?"

"Iya, nih. Mau kerja kelompok di kosan teman", jawabnya.

Sejenak matanya memandangi penampilanku malam itu. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Mendingan kamu balik dulu, deh. Ganti tuh celana pendekmu", ucapnya kemudian.

"Wah. Ga boleh yah, kak?"

"Bukannya ga boleh, cuma kurang sopan aja. Kalo aku sih gapapa dan ga masalah kamu mau pake celana pendek."

Setelah itu aku bergegas kembali ke kost, ganti celana panjang, lalu bergegas lagi pergi ke sekre. Sesampainya di sekre, nafasku masih memburu. Beruntung saat itu briefing belum dimulai.

Dan benar aja, selama beberapa bulan kedepan ga pernah sekalipun menemui yang bercelana pendek. Baik itu cowok, apalagi cewek. Seakan itu sudah jadi aturan tak tertulis di sekre ini.

Usut punya usut, ada seorang senior yang menyandang jabatan komdis alias komisi disiplin. Jadi setiap ada yang agak 'membelok', bakal kena teguran ama si komdis ini. Konon katanya galaknya luar biasa, sampai orang yang lebih senior aja takut sama dia. Pernah ada seorang senior lain, 3 tahun diatas si komdis, bertanya "Eh aku mau ke sekre, nih. Ada si komdis ga ya?". Singkat cerita dia menebarkan 'kenangan', baik itu kenangan indah maupun kenangan buruk kepada seluruh penghuni sekre.


Di suatu malam yang cerah, aku lagi di tempat teman melakukan kegiatan rutin; main DotA. Tiba-tiba ada ajakan makan malam sekaligus membahas beberapa masalah yang ada di sekre. Katanya pesertanya kali ini cuma bertiga; Aku, Teman A, dan sang komdis.

Dengan santainya aku berjalan dari kost temanku itu menuju warung makan yang dijanjikan. Sesampainya di pintu warung, aku baru sadar kalo aku pake celana pendek (mungkin panjangnya sekitar 3/5, alias sedikit dibawah lutut).

Jeger! Modyar kowe! Lupa blas kalo ada komdis. Kalo balik ke kosan jauuh, udah terlanjur didepan pintu pula. Yasudahlah, akhirnya nekat masuk.

Tak disangka, ternyata sang komdis tidak mengomentari apa-apa. Fyuuh.

Sejak saat itu celana pendekku selalu dipendam di lemari, tidak pernah dipakai lagi. Awalnya emang terasa restricted. Tapi makin kesini makin nyaman. Betis juga makin putih :3 *plak*


-------------------------------------------------------

Huwalaa.

Jumpa lagi disini, kali ini bahas celana :3

First half was written on Monday, second half is on wednesday. Basically I spent 3 days :D
Alasan nulis cerita ini adalah karena pernah ada yang ribut-ribut gegara melihat seseorang yang biasanya pake celana panjang, menggunakan celana pendek di acara olahraga. Kayaknya ada alasan lain, tapi lupa. Biasa laaah :p

BTW ini beneran diambil dari kisah nyata (yang diubah sedikit di beberapa bagian, tentunya). Kalo sang komdis membaca, mungkin dia akan sadar dan ngamuk-ngamuk :D

Udah, ah.


Yogyakarta, 21 Oktober 2015
"Teruntuk sang komdis yang selalu kami rindukan"

Baca Selengkapnya....

Jumat, 09 Oktober 2015

The Walk + Random Rant

Beberapa hari yang lalu nonton pelem baru yang judulnya The Walk. Ceritanya ada seorang pria yang pengen berjalan diatas tali yang membentang diantara gedung kembar World Trade Center di New York. Katanya sih diangkat dari kisah nyata.



Oke sekip.

Karena ini adalah tindakan yang jelas-jelas ilegal, maka orang 'gila' itu pastinya perlu bantuan beberapa orang untuk mempersiapkan atraksinya itu. Singkat cerita, terkumpullah beberapa orang yang bersedia membantu. Uniknya, salah seorang diantara mereka takut ketinggian, sebut saja namanya Jeff. Si Jeff inilah yang akan jadi topik kali ini.

Gue kenal sama orang yang takut ketinggian. Dan orang itu pernah kita paksa buat naik cable car ke Sentosa Island. Sepanjang perjalanan dia cuma nunduk sambil nutup mata. Kalo keretanya goyang dikit aja, dia udah panik setengah mati.

Oke balik lagi ke film. Buat apa orang yang takut ketinggian ngebantu orang 'gila' buat nyebrangin gedung WTC, gedung tertinggi di dunia (saat itu)? Apa yang bikin dia mau ngebantu masang tali di puncak gedung itu? Padahal di film sempat ditampilkan dia naik ke lantai 2 atau 3, dan udah ga berani liat kebawah. Apa ga pingsan itu kalo naik ke lantai 110?!

Ada beberapa anggota tim yang akhirnya berhenti membantu karena mereka ga yakin sama ini orang 'gila'. Tapi si Jeff ini tetap ngebantu sampai akhir. Sesuatu!

Sepanjang film, gue sambil mikirin ini alasan. Dan sampai akhirnya ini film memasuki babak akhir dimana sang tokoh utama mulai menjejakkan kakinya diatas tali.

Saat orang 'gila' itu mulai berjalan, si Jeff ini dengan girangnya berjoget-joget. Dengan gaya yang ga jelas dia berjoget sesukanya, seenaknya, sekenanya.

Dan gue tiba-tiba tetawa, karena gue ngerasa ngeliat cerminan diri gue di Jeff. Dia sebagai seseorang yang takut ketinggian, ingin membantu orang yang begitu menyukai ketinggian untuk mencapai mimpinya. Dengan cara begitu, mungkin dia bisa merasa lebih 'dekat' dengan apa yang tidak bisa dia capai.


Gue ga bisa ngegambar, otak kanan macet. Beberapa waktu yang lalu ngasih buku mewarnai ke satu orang, lalu satu orang lagi, dan satu orang lagi. Yep, tiga buku mewarnai yang sama ke tiga orang berbeda. Dan gue bahagia melihat mereka semua (beberapa, mungkin) bahagia.



Seperti biasa, awalnya ada yang pamer buku. Lama berselang, ada yg pamer cat air. Kasih satu. Ada yang pamer crayon, kasih satu. Ada yang terpengaruh melihat hasilnya setelah diwarnai, kasih satu. Dan voila, inilah hasilnya.

T1

T2

T3

Emeijing, aren't they?


Kalo ini dari yang pertama pamer buku.


Mungkin kalo emosi itu tak terbendung dan meluap keluar, gue udah joget-joged ga jelas kayak si Jeff. Saking girangnya.


Want to be the next who has the coloring book? *smirk*


P.S.: I am waiting for the next page, guys :p

Baca Selengkapnya....

Kamis, 17 September 2015

200th Post - Awal Membaca dan Menulis

Based on blogspot's post counter, this is my 200th post. Yaaaay.
Untuk memperingati, mari mengenang masa lalu.


Buku bacaan yang pertama (yang bisa kuingat) adalah Majalah Tiko, jaman TK. Walaupun kontennya yang kuingat sampai sekarang adalah bonusnya (biasanya mainan dari kertas, semacam topeng-topengan), aku yakin waktu TK udah sering buka-buka itu buku, walau kayaknya waktu itu belum bisa baca.

Ada satu jenis buku lagi; buku bergambar binatang. Ada sekitar 3 buku (kalo ga salah) dengan jenis binatang berbeda: binatang di air, binatang di hutan, binatang malam hari. Dan itu buku bahannya bukan dari kertas biasa, tapi kayak karton tebal gitu. Jadi ga bisa disobek anak-anak. That's one of my treasure at that time.

Udah agak gedean dikit, mulai pindah jalur ke Majalah Bobo. Jaman dulu harganya berapaan yah? Dibawah 3000 kayaknya. Terakhir langganan kalo ga salah di harga 3500 (atau 5500, lupa :p). Rubrik yang kuingat ada: cerita si Bobo itu sendiri, Ensiklopedia Bobo, Paman Kikuk, Husin, dan Asta, Bona dan Rongrong, Oki dan Nirmala, Cerpen, Dongeng, Tak Disangka, dan (kalo ga salah) Arena Kecil.

Nah dua rubrik terakhir ini adalah rubrik yang berisi cerita dari pembacanya. Disitu dipajang juga nama dan alamat pengirim cerita. Suatu hari yang cerah ada sebuah cerita berjudul Payung Terbang nangkring di rubrik itu. Yang spesial bukan ceritanya, tapi pengirimnya. Nama pengirimnya adalah, sebut saja, RDMPS. Alamat pengirimnya adalah Muara Teweh, kampung halamanku yang jauh dari manamana itu. Waktu itu aku cuma kaget, and doing nothing.

Sekian tahun berlalu saat aku udah lupa sama yang namanya RDMPS, tiba-tiba seorang teman di kelas les bahasa inggris mengeluarkan (kalo ga salah) kotak pensil bergambar bobo.

"Eh kotak pinsil nya bagus, gambar Bobo. Beli dimana?"

"Oh ini dapet dari hadiah. Aku pernah ngirim sesuatu, dikasih hadiah ini"

Ini dia ternyata si RDMPS! Sekian tahun kenal ama ini anak, dan ga sadar kalo dialah yang punya cerita Payung Terbang itu.

"Oh! Cerita Payung Terbang itu ya?"

"Iya"

"Gimana cara ngirimnya, emang?"

"Yaudah, kirim aja ke Jl. Palmerah Selatan No. 22. Jangan lupa tulisin 'Arena Kecil' atau 'Tak Disangka' di pojok atas."



Sepulangnya dari sana, aku langsung mencoba menulis cerita dan mengirimkannya ke Redaksi. Waktu itu ceritanya tentang pin bonus bobo yang kupasang di tasku tiba-tiba hilang. Bertahun-tahun kemudian akhirnya ceritaku dimuat, kalo ga salah di edisi tahun 2003. Kali itu apa yang dicetak berbeda dengan naskah asli yang kutulis. Saat itu kupikir mereka menggantinya gara-gara tulisanku terlalu jelek sehingga ada beberapa kata yang sulit dibaca. Aaah, masa muda yang indah.

And they gave me a hat as a present. I cherished that hat.

Fun fact: tas nya masih ada sampe sekarang, dan masih selalu dipake kemana-mana. Tas merah selempang dengan merk Boogie ini, kesayangan dah.


Pas SD juga kenal yang namanya komik. Doraemon, Dragon Ball, Sinchan, Detektif Conan jadi komik favorit jaman itu. Masih inget jaman dulu dijatah 20.000 buat beli buku (mainly komik) tiap pergi ke Banjarmasin (ga ada Gramedia di pedalaman, jadi musti ke Banjarmasin, which is pas liburan, which is 10jam perjalanan darat).


Kebetulan juga punya tante yang penggemar cerita misteri. Jadi pada suatu liburan sekolah, kita pergi ke Banjarbaru dan nginep di kosan dia. Disanalah aku pertama kali mengenal yang namanya Agatha Christie, tentunya gara-gara pengaruh sang tante.

Waktu itu aku masih SMP. Masih belum berani baca novel (kecuali Harry Potter, yang mana adalah pinjem), apalagi novel misteri. Wong waktu baca Conan jilid 4 aja takut, sampe kebawa mimpi, sampe pas liat itu cover jilid 4 di Gramedia jadi ga berani buka isinya.


Setelah masuk SMK yang berada di Banjarbaru, aku baru mulai berani beli buku 'agak' mahal kayak novel. Secara udah jadi anak kost dan dikasih duit bulanan, sudah bisa nabung buat memenuhi hasrat pribadi :3. Novel pertama ku dulu kalo ga salah Laskar Pelangi nya Andrea Hirata.

Karena SMK nya dulu di jurusan Teknik Komunikasi dan Jaringan (yang juga agak menjurus ke Informatika), alhasil selain itu aku juga beli buku-buku programming, jaringan, dan yang berbau-bau komputer. Those are my early days as a book reader.


Untuk anak SMK ada yang namanya magang. Nah oleh ketua jurusan, anak-anak magang ini disuruh membuat blog. Kita disuruh melaporkan kegiatan kita selama magang setiap hari melalui blog pribadi itu. Tujuannya sih katanya biar gampang memantaunya. Dan lahirlah blog ini.

Untuk nama blognya sendiri, ampun-aux, asalnya dari 2 kata:
ampun yang berarti 'punya' dalam bahasa Banjar, dan Auk yang merupakan bahasa gaul dari 'aku' pada jaman itu.
Rada alay, emang. Wong jaman itu masih labil, maklum masih muda :p


Next, jaman kuliah di Bandung. Beli-beli buku nya udah masuk dalam tahap parah. List buku yang dibeli makin banyak, waktu yang dipake buat ngebacanya sedikit. Alhasil, banyak buku yang sampai sekarang cuma jadi pajangan di lemari. Entah belum dibaca atau cuma dibaca separuh jalan.

Pas jaman kuliah ini juga mulai punya Internet di kost. Oleh karena itu niat menghidupkan blog kembali dimulai. Mulai dari bikin cerpen, ngasih download link lagu bajakan, sampai repost Hot Thread Kaskus pernah dicoba untuk meramaikan blog ini. Guess what, it doesn't work well.
Cerpen, I'm too shy to share its hyperlink.
Bajakan, works well but its kinda illegal.
HT Kaskus, The image links usually broken.


And that's when this blog went hiatus.


Setelah masuk dunia kerja, ritual menumpuk buku ini makin parah. Dalam sebulan PASTI mampir ke toko buku. Kalo udah masuk toko buku, pantang pulang sebelum beli. Sekali beli biasanya diatas 2 buku. Padahal dalam sebulan cuma bisa ngehabisin satu (karena disambi maen game di 3DS ato Vita), paling banter dua kalo ceritanya bagus dan bikin 'nagih'. Alhasil, rak buku (3tingkat, beli di Carrefour) penuh dalam waktu satu tahun.


Dan setelah masuk dunia kerja ini pula lah jadi sering nulis di blog ini. Inspirasinya datang dari mana-mana.
Ada dari mimpi,
pengalaman pribadi,
pengalaman orang lain,
hasil pemikiran yang selama ini terpendam,
atau sekedar nulis review Buku, Game, dan Liburan.


So that's it. Although there are 'junk posts' in the middle, this is still the 200th posts. Cheers, myself.




Yogyakarta, 17 September 2015
"Happy 200th post"

Baca Selengkapnya....

Senin, 07 September 2015

Otak Kanan

Otak kanan sering diidentikkan dengan kreativitas seseorang. Seseorang yang karya seninya bagus, entah itu dalam bentuk tulisan, puisi, ataupun gambar katanya mempunyai otak kanan yang berkembang.

Otak kananku macet.

Katanya juga, bagian tubuh sebelah kiri dikendalikan oleh otak sebelah kanan. Karena itulah aku menggosok gigi (sejak 2009) dan menggunakan mouse (sejak 2014) di kanan kiri.

Alhamdulillah sekarang sudah bisa pegang sumpit ama sendok sup di tangan kiri.
Alhamdulillah sekarang sudah bisa pegang pisau steak di tangan kiri.
Alhamdulillah sampai sekarang masih belum bisa menggambar.

Karena itu pula aku sangat menghargai mereka yang berjuang menggunakan otak kanannya. Dan kalau yang berniat atau sudah mendalami dunia persenian, I'll try my best to help 'em.

Membeli karya artist lokal (terutama yang masih self publishing, entah itu buku, komik, artbook, sampe pin maupun gantungan kunci) sampai nyari bahan belajar (pernah nyariin wacom sampe buku mewarnai untuk dewasa), dan berharap mereka akan terus berkarya.

"Tidak perlu terburu-buru membuat sesuatu yang 'besar'. Lahirkan sesuatu yang kecil saja dulu, lalu rawat dengan baik hingga tumbuh kebanggaan telah membesarkannya. Terkadang kita lupa, ambisi yang berlebihan untuk terlihat rupawan cenderung lebih cepat menjatuhkan. 'Tetap rendah hati dan penuh semangat' - Netra." - Sweta Kartika



These images below are taken from Tigera's blog

























Yogyakarta, 7 September 2015
"For everyone who loves to create"

Baca Selengkapnya....

Kamis, 03 September 2015

Ship of Theseus - Kapal Theseus

Alkisah, sekembalinya dari Kreta, para penduduk Athena menyambut kedatangan Theseus. Dan karena itu pula lah penduduk Athena memutuskan untuk mengawetkan kapalnya; Kapal Theseus.

Karena kapalnya terbuat dari kayu, setiap kali ada yang lapuk mereka menggantinya dengan yang baru. Lama kelamaan, semua bagian kapalnya sudah diganti dengan kayu yang baru.

Hal ini menyebabkan perdebatan di kalangan penduduk; Masihkah kita bisa menyebut kapal itu Kapal Theseus? Padahal setiap bagiannya sudah diganti dengan yang baru.


Gambar dari presentasi Jennifer Wang


Jenis lain dari paradox ini adalah Locke's Socks; Kaus Kaki Locke.

Ceritanya si Locke mempunyai kaos kaki. Suatu hari kaus kakinya berlubang. Dia kemudian menambal lubang tersebut dengan kain. Beberapa lama kemudian, bagian lain dari kaus kakinya berlubang. Dia pun menambal lubang itu. Begitu seterusnya sampai akhirnya kaus kakinya itu berbentuk sambungan beberapa kain, dan tak ada bagian asli dari kaus kakinya yang tersisa.

Masihkah kaus kaki itu bisa disebut kaus kaki Locke?


Sudah mulai pusing? Coba perhatikan contoh modifikasi dari kasus kapal theseus ini:

Misalkan kapal Theseus terbuat dari dan hanya dari 1000 batang papan. Setiap harinya satu papan dilepas dan diganti dengan papan yang baru. Dalam 1000 hari kapal itu sepenuhnya terbuat dari papan yang baru.


Gambar dari presentasi Jennifer Wang


Misalkan papan yang dilepas tiap harinya dari kapal Theseus itu dipergunakan untuk membuat kapal baru yang SAMA PERSIS dengan kapal Theseus. Kapal manakah yang cocok disebut Kapal Theseus?

Apakah kapal pertama yang tiap bagiannya diganti setiap hari?

Apakah kapal kedua?




Beberapa cerita yang pernah kutulis juga kurang lebih sama. "Ambil suatu kisah sebagai acuan utama, tambahkan poin dari kisah lain"

Misal aku mengambil tokoh X sebagai tokoh utama. X sendiri adalah tokoh yang memang benar ada di dunia nyata. Cerita yang ditulis menjelaskan apa yang 'mungkin' dirasakan si X, tetapi melalui pemikiranku. Dan ujung-ujungnya, ditambah beberapa poin lain.


Masihkah itu bisa disebut kisah tentang si X?





Yogyakarta, 3 September 2015
"Untuk orang-orang yang kisah hidupnya kuambil, dan kukacaukan"

Baca Selengkapnya....

Senin, 24 Agustus 2015

Rain of Posts

Beberapa bulan belakangan banyak post yang mengalir di blog ini. Alasannya simpel, tiba-tiba muncul hasrat buat nulis.

Sebenernya ga sepenuhnya gara itu aja. Tiba-tiba buanyaaaaaaaak inspirasi yang dateng. Daripada dibiarkan menguap gitu aja, mending sekalian ditulis. Lumayan buat 'senyum-senyum' di masa depan.

'Senyum-senyum'? Iya, senyum. Bikin timbul perasaan "Idih. Gue dulu ternyata kayak gini, yah". Pernah ngalamin, kan? Kalo belum pernah coba kalian ubek-ubek post beberapa tahun lalu kalian di Media Sosial.

Oke, sekip.

Ini inspirasi datengnya juga ga menentu. Kadang pas baca, kadang pas main, kadang pas kerja, kadang pas mengenang masa lalu, kadang pas boker. Paling sering, pas mau tidur.

Bayangin. Pas belum ngantuk tapi udah saatnya tidur. Kan itu dipaksa-paksa buat tidur, yah. Karena itu juga pikiran biasa melayang-layang entah kemana. Dan tahu-tahu malah dapet ide cerita. Alhasil, bukannya tidur, malah nulis konsep :(

Anyway, bentuk post yang ditulis juga macem-macem.

Pertama, Cerpen.
Ini bentuk paling simple, idenya paling gampang. Biasanya gue nulis pake sudut pandang orang pertama dan Theory of Mind (yang niatnya bakal dijelaskan di post berikutnya). Cerpennya ga sependek yang ada di majalah Bobo :)


Kedua, Teori.
Sesuai namanya, ini biasa diisi teori-teori ga jelas. Sekarang udah jarang nulis ginian gara-gara idenya susah.


Ketiga, Curhat.
Contohnya, kayak yang satu ini. Nuff said.


Keempat, Puisi.
Gue, yang sedari dulu gaaak pernah suka dan paham ama puisi, tiba-tiba nulis puisi. Mungkin buat mereka yang sudah biasa mengapresiasi puisi, yang gue buat ini belom bisa dibilang puisi beneran.

Kalau ada beberapa ide yang berbau-bau melankolis dan susah diungkapkan melalui cerpen, entah karena flagnya kurang, karena sekedar kurang sreg, atau cuma karena pengen bikin sesuatu yang amat sangat tersirat, biasanya langsung diramu menjadi bentuk ini.


Wasalam.


Yogyakarta, 24 Agustus 2015
"To my future self. Someday you will surely smile while reading this :)"

Baca Selengkapnya....

Rabu, 19 Agustus 2015

Gift #1; Hadiah

Kalian pasti pernah menerima yang namanya hadiah. Baik dari teman, orangtua, guru, bahkan dari panitia lomba atau kuis. Bentuknya pun bisa bermacam-macam, dari benda yang dapat dipegang, sampai sesuatu yang abstrak namun tetap bermakna. Disini akan dicoba membahas tentang hadiah, tentunya berdasarkan pemikiran pribadi :D


Pertama, apa sih hadiah itu? Hadiah adalah sesuatu yang diberikan oleh si A kepada si B, dengan disertai maksud tertentu misalnya:
- Memperingati suatu event: kelulusan, kenaikan pangkat, ulang tahun, dll
- Mempererat silaturahmi
- Balas budi
- Mengharapkan simpati si B
- Sogokan, kompensasi tutup mulut, dan teman-temannya


Namun tujuan utama setiap hadiah masih tetap sama: membahagiakan penerimanya.

Bilang kalian ga bahagia pas nerima hadiah, apalagi kalo hadiahnya dari orang tersayang *suitsuit*, misalnya orangtua :p *tee hee*


Bentuk dari hadiah itu sendiri ada bermacam-macam. Mulai dari kelas harta (rumah, mobil, motor, dan barang mahal lainnya), kelas benda (hasil DIY, buku, keychain), sampai kelas abstrak (lagu, gambar, puisi, senyuman). Masing-masing bentuk punya kegunaan khususnya sendiri.

Misalnya untuk kelas harta, sangat berguna kalau dijadikan bahan sogokan ataupun buat menarik jodoh. Sampai-sampai ada istilah 'Jimat Jepang', yang secara kasar bisa berarti kendaraan bermotor buatan jepang (kan merk nya banyak, tuh. Mulai dari Honda, Yamaha, Suzuki, Toyota, etc).

Untuk kelas benda cocok jika dijadikan oleh-oleh, hadiah ulang tahun, sampai hadiah kuis abal-abal.

Kelas Abstrak ini sesuai namanya, abstrak. Paling murah.

Walaupun tujuan utamanya adalah membahagiakan penerimanya, tetap saja tidak menjamin tujuan ini tercapai. Tingkat keberhasilannya sangat bergantung kepada preference si penerima. Misal, penerima adalah orang yang ga suka kucing, terus kau ngasih boneka kucing, ato lebih parahnya kucing angora. Ya disembelih itu kucing.

Faktor lain adalah harapan si penerima terhadap si pemberi. Misal si penerima mengharap kalau si pemberi bakal memberi Toyota Supra, ee tapi malah diberi Honda Supra. Besoknya si penerima pundung, padahal habis diberi hadiah. Ckck.


Untuk history memberi pernah ngasih ipod, figure dan sejenisnya, buku, strap, sampe stiker.
Sedangkan history menerima ada DIY 'treasure box', self-hand-painted t-shirt, figure dan sejenisnya, buku, botol minum, sampe alat tulis. Honestly, I prefer unique item, thus makes me loves 'DIY thingy' much more than anything.


Sekian sesi curcol

Baca Selengkapnya....

Kamis, 23 Juli 2015

Catatan Lebaran (1436H) Seorang Introvert

Momen lebaran biasa menjadi momen 'awkward'. Lebaran tahun ini juga ga jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya; sama-sama 'awkward'.

Seperti biasa, semua diawali saat bangun pagi, siap-siap solat ied, terus berangkat menuju masjid. Beres solat ied, balik lagi ke rumah, salim-saliman, nonton ceramah solat ied live dari masjid Istiqlal sambil nyemil.

Agak siangan, kami pun berangkat ke rumah nenek (10menit kalo naik motor). Karena beliau adalah yang dituakan, maka cukup nongkrong disana, dan orang-orang pun berdatangan.

Well, akhirnya banyak orang datang silih berganti. Gue cuma bisa duduk di pojokan ruang tamu sambil menatapi orang-orang yang gak gue kenal. Ditawari salaman, gue salamin. Kalo ga ditawarin, gue ya diem aja.

Biasanya kan pas baru datang salaman, pas mau pulang juga salaman. Ada satu kloter tamu yang pas datang mereka ngajakin gue salaman. Abis itu mereka ngobrol panjang lebar sama tamu yang lain dan tuan rumah. Pas mereka mau pulang, gue berasumsi mereka mau salaman juga. Bergiliran, mereka mulai menyalami setiap orang. Pas hampir giliran gue, gue rada bangkit dari duduk. Tapi ajaibnya, GUE DILEWATIN. Langsung deh pasang akting mau peregangan badan. DEMN! SAKIT ATI, MAK!

Abis itu gue pundung, pergi lebih dalam buat masuk ke ruang nonton TV yang sepi. Biasa, kalo udah sepi gini bawaannya yaa main game. Sambil ngeluarin N3DS, menyelam ke dunia digital.

Gak lama, tamu-tamu anak kecil juga mulai menginvasi ruang TV. Melihat gue lagi asyik main game, otomatis refleks anak kecil pengen liat. Langsung pada duduk disebelah gue, menjorokkan kepala kearah layar N3DS gue. Sebagai seorang introvert tulen, gue merasa risih dengan kehadiran bocah-bocah ingusan ini, dan berhenti main. Duduk diam melamun sampai mereka pergi.

Setelah mereka pergi, gue lanjut main lagi. Tapi kali ini mesti berhenti lagi gara-gara para ibu pergi ngumpul di ruang TV buat nge-gosip. Ruang TV yang tadinya sepi, langsung penuh ama gosip. Lagi, gue jadi ga tenang.

Kali ini gue ga punya tempat lain buat kabur. Yasudah akhirnya diam dan memperhatikan obrolan ibu-ibu.

Those things, ruins my mood for entire week.


Why didn't you go out with your friends? Don't you have any?
Now, that's a good question.

I basically spent my entire first 15 years in this town. But hey, that was more than 8 years ago. I don't even know what my old friends do right now, or where they live. Basically, I've lost contact from them. Social media was not as good as today, mate.

Alasan lain adalah karena udah ga mood. Nuff said.


So, that's why I decided to spent my entire time with playing games, excluded from real world.

Baca Selengkapnya....

Rabu, 24 Juni 2015

Knowing Yourself - ISFJ (Introvert Sensing Feeling Judging)

"Love only grows by sharing. You can only have more for yourself by giving it away to others" - Brian Tracy

Here it comes, tulisan kedua dari delapan konsep yang tersedia.

Jadi semua bermula setelah 'beberapa' orang pamer ke-INTJ dan ke-ENTJ-an nya, dan akhirnya gue penasaran. "Gue ini siapa, sih?". Akhirnya, berujung ngambil test personality disini.

15 menit kemudian, setelah menjawab semua pertanyaannya.

SHOCKED! Hasilnya introvert, sensing, feeling, judging (ISFJ) .
Introvert, wajar. Sensing, lumayan wajar. Judging, juga wajar. Yang jadi masalah bagian feeling ini. Gue, self-proclaimed 'mati rasa', ternyata punya F, bukan T (thinking). This is the most shocking truth of the month!!



Oke, lepas dari fakta mengejutkan diatas, mari kita bahas hasil test nya aja. Gue bakal ngasih komentar disetiap paragraph dari hasil testnya.

Beware, wall of text, tl;dr.

The ISFJ personality type is quite unique, as many of their qualities defy the definition of their individual traits. Though possessing the Feeling (F) trait, ISFJs have excellent analytical abilities; though Introverted (I), they have well-developed people skills and robust social relationships; and though they are a Judging (J) type, ISFJs are often receptive to change and new ideas. As with so many things, people with the ISFJ personality type are more than the sum of their parts, and it is the way they use these strengths that defines who they are.

Hmm, okay. Disini dijelaskan bahwa walaupun punya sifat Feeling, tapi tetap punya kemampuan analisis yang bagus. Oke, terjawab sudah kenapa bukan T.
Berikutnya dijelaskan bahwa walau introvert tapi punya, ummm, hubungan dan kemampuan sosial yang bagus. *lirik friendlist yang minim*


ISFJs are true altruists, meeting kindness with kindness-in-excess and engaging the work and people they believe in with enthusiasm and generosity.
Altruist, alias selflessness, alias ga peduli diri sendiri, so truue. Seperti quote terkenal:
'Non ignara mali, miseris succurrere disco.' -- Virgil's Aeneid, Book I, line 630
Roughly translated "No stranger to misfortune myself, I have learned to relieve the sufferings of others". Kalo diterjemahkan ke Bahasa, agak susah. kira-kira "Karena aku sudah terbiasa dengan kesialan yang sering menimpaku, aku jadi belajar untuk meringankan penderitaan orang lain". Entah kenapa menolong orang terasa lebih menyenangkan dan menenangkan.

Jadi inget kejadian di wisudaan seseorang, sebut saja sobat D. Waktu itu ceritanya gue masih mahasiswa tingkat akhir yang ogah-ogahan ngerjain Tugas akhir, jadinya belum lulus. Waktu itu baru pada keluar dari ruangan wisuda, yang mana pas tengah hari terik. Sobat D pas wisudaan pake wedges, dong. Karena gabisa jalan lancar, akhirnya lepas wedges. Karena jalannya panas, akhirnya ngembat sendal orang. Karna orang yang bersangkutan tidak mungkin jalan pake wedges dengan ukuran segitu, jadilah dia berjalan telanjang kaki di jalanan yang panas.


There's hardly a better type to make up such a large proportion of the population, nearly 13%. Combining the best of tradition and the desire to do good, ISFJs are found in lines of work with a sense of history behind them, such as medicine, academics and charitable social work.
And here I am, as a programmer (at the moment)


ISFJ personalities (especially Turbulent ones) are often meticulous to the point of perfectionism, and though they procrastinate, they can always be relied on to get the job done on time. ISFJs take their responsibilities personally, consistently going above and beyond, doing everything they can to exceed expectations and delight others, at work and at home.
Cermat sampai-sampai bisa dibilang perfeksionis, kadang-kadang. Biasanya sebelum commit code ke repository diteliti satu-persatu. Kali aja salah merge, dan kadang tetap salah merge OTL
Suka menunda pekerjaan, pastinyaa *bangga*.
Membahagiakan orang lain, bukankah itu tujuan kita terlahir di dunia?



We Must Be Seen to Be Believed



The challenge for ISFJs is ensuring that what they do is noticed. They have a tendency to underplay their accomplishments, and while their kindness is often respected, more cynical and selfish people are likely to take advantage of ISFJs' dedication and humbleness by pushing work onto them and then taking the credit. ISFJs need to know when to say no and stand up for themselves if they are to maintain their confidence and enthusiasm.
Cenderung menganggap remeh pencapaian mereka. Hmm, dalam hal ini mungkin kaum ISFJ ini bisa melakukan X, tapi karena malu-malu dan kurang pede mereka bilang gabisa. Semacam ini pula yang terjadi pas competency review. Ga mau klaim gara-gara merasa kurang pantas.


Naturally social, an odd quality for Introverts, ISFJs utilize excellent memories not to retain data and trivia, but to remember people, and details about their lives. When it comes to gift-giving, ISFJs have no equal, using their imagination and natural sensitivity to express their generosity in ways that touch the hearts of their recipients. While this is certainly true of their coworkers, whom people with the ISFJ personality type often consider their personal friends, it is in family that their expressions of affection fully bloom.
Ingatan yang bagus. HAAAH?! Sebagai seorang pelupa, gue merasa tersinggung. Ato sebenarnya ingatan gue emang bagus, tapi cuma hal-hal yang gue anggap penting doang.



If I Can Protect You, I Will



ISFJ personalities are a wonderful group, rarely sitting idle while a worthy cause remains unfinished. ISFJs' ability to connect with others on an intimate level is unrivaled among Introverts, and the joy they experience in using those connections to maintain a supportive, happy family is a gift for everyone involved. They may never be truly comfortable in the spotlight, and may feel guilty taking due credit for team efforts, but if they can ensure that their efforts are recognized, ISFJs are likely to feel a level of satisfaction in what they do that many other personality types can only dream of.
Ga bisa tinggal diam kalo ada yang belum beres. Ngapain diam kalo ada yg bisa dikerjain, kecuali kalo gaada (kayak sekarang. hehehe).
Walau cuma dikalangan introvert, tapi skill kedekatannya jagoan.


ISFJ Strengths



Supportive – ISFJs are the universal helpers, sharing their knowledge, experience, time and energy with anyone who needs it, and all the more so with friends and family. People with this personality type strive for win-win situations, choosing empathy over judgment whenever possible.

Reliable and Patient – Rather than offering sporadic, excited rushes that leave things half finished, ISFJs are meticulous and careful, taking a steady approach and bending with the needs of the situation just enough to accomplish their end goals. ISFJs not only ensure that things are done to the highest standard, but often go well beyond what is required.

Imaginative and Observant – ISFJs are very imaginative, and use this quality as an accessory to empathy, observing others' emotional states and seeing things from their perspective. With their feet firmly planted on the ground, it is a very practical imagination, though they do find things quite fascinating and inspiring.
Imajinatif, mengamati kondisi emosional orang lain, berusaha melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Karena ini, jadilah beberapa tulisan aneh. Contohnya Racun kemaren, sama cerita aneh lainnya. Walaupun kayaknya untuk bagian mengamati kondisi emosional orang lain agak kurang tepat. Atau mungkin otak ini pura-pura tidak tahu, secara disadari maupun tak disadari.

Enthusiastic – When the goal is right, ISFJs take all this support, reliability and imagination and apply it to something they believe will make a difference in people's lives – whether fighting poverty with a global initiative or simply making a customer's day.

Loyal and Hard-Working – Given a little time, this enthusiasm grows into loyalty – ISFJ personalities often form an emotional attachment to the ideas and organizations they've dedicated themselves to. Anything short of meeting their obligations with good, hard work fails their own expectations.
Semangat akan berubah menjadi kesetiaan. Jangan lupa ada Introvert dari ISFJ. Kalau mereka tidak 'digandeng' diawal, maka Semangat pun akan susah datang *curhat*.

Good Practical Skills – The best part is, ISFJs have the practical sense to actually do something with all this altruism. If mundane, routine tasks are what need to be done, ISFJs can see the beauty and harmony that they create, because they know that it helps them to care for their friends, family, and anyone else who needs it.
All hail left brain. Nuff said.


ISFJ Weakness



Humble and Shy – The meek shall inherit the earth, but it's a long road if they receive no recognition at all. This is possibly ISFJs' biggest challenge, as they are so concerned with others' feelings that they refuse to make their thoughts known, or to take any duly earned credit for their contributions. ISFJs' standards for themselves are also so high that, knowing they could have done some minor aspect of a task better, they often downplay their successes entirely.
All hail introvertness. Nuff said.

Take Things Too Personally – ISFJs have trouble separating personal and impersonal situations – any situation is still an interaction between two people, after all – and any negativity from conflict or criticism can carry over from their professional to their personal lives, and back again.
Aand this is a serious problem for me.

Repress Their Feelings – People with the ISFJ personality type are private and very sensitive, internalizing their feelings a great deal. Much in the way that ISFJs protect others' feelings, they must protect their own, and this lack of healthy emotional expression can lead to a lot of stress and frustration.
If I tell you my stories, it means I trust you with it.

Overload Themselves – Their strong senses of duty and perfectionism combine with this aversion to emotional conflict to create a situation where it is far too easy for ISFJs to overload themselves – or to be overloaded by others – as they struggle silently to meet everyone's expectations, especially their own.
Untungnya gaada belum ada yang begini

Reluctant to Change – These challenges can be particularly hard to address since ISFJ personalities value traditions and history highly in their decisions. A situation sometimes needs to reach a breaking point before ISFJs are persuaded by circumstance, or the strong personality of a loved one, to alter course.
Hasil test ini adalah salah satu contoh breaking point, tadinya berpikir kalau 'mati rasa', ternyata gue melankolis. Ahay

Too Altruistic – This is all compounded and reinforced by ISFJs' otherwise wonderful quality of altruism. Being such warm, good-natured people, ISFJs are willing to let things slide, to believe that things will get better soon, to not burden others by accepting their offers of help, while their troubles mount unassisted.
So, this is a weakness -_-


ISFJ Relationship



Wahai darah muda yang bergelora, nikmatilah!!

When it comes to romantic relationships, ISFJs' kindness grows into a joy that is only found in taking care of their family and home, in being there for emotional and practical support whenever it's needed. Home is where the heart is for people with the ISFJ personality type, and in no other area of their lives do they strive with such dedication to create the harmony and beauty they wish to see in the world.

The trouble is, these are the benefits of an established long-term relationship, and ISFJs' unbearable shyness means it can take a long time to reach this point. ISFJs are most attractive when they are simply being themselves in a comfortable environment such as work, where their natural flow shows this kindness and dedication. Relationships built on established familiarity are a warm prospect for ISFJs – they take dating seriously and only enter into relationships that have a real chance of lasting a lifetime.
Kalo kata kak Trio mah "Lu pernah kepikiran 'Dia ibu yang baik buat anak-anak gue' ga ke doi?"

ISFJs' shyness and sensitivity shield what are, beneath the surface, incredibly strong feelings. While not always obvious to others, this river of emotion can't be taken lightly or for granted – ISFJ personalities can value the idea of committed romance almost as highly as some regard religious beliefs. Hard as it may be, if either dating partner doubts their feelings, they must part ways before real emotional damage is done.

As their relationships do progress, ISFJs often continue to struggle with emotional expression, but they have the opportunity to let physical affection stand in for their loving words. People with this personality type take no greater joy than in pleasing others, often even considering this a personal duty, and this applies to intimacy as well. While dutiful sex may not sound especially attractive in those specific terms, intimacy is tremendously important to ISFJs, and they spare no effort in this department.

Nor is the pleasure they take in ensuring their partners' happiness limited to the bedroom – ISFJs spend an enormous amount of time and energy finding ways to keep their relationship satisfying for their partners. All they ask in return is commitment, love and, perhaps most of all, appreciation.

However, not everyone is prepared to pay even that small price for the benefit of ISFJs' kindness. If their partners aren't willing or able to express this thanks, or worse still are openly critical of their ISFJ partners, they will find that, given time and pressure, all of those repressed emotions can burst forth in massive verbal attacks that all the future regret in the world won't blunt.

These outbursts are something to watch out for, but the more pervasive issue in ISFJs' relationships is that it can be too easy for their altruism and kindness to be taken advantage of, maybe even without their partners realizing it, while leaving ISFJs' own needs and dreams unfulfilled. This is something that ISFJs' partners, and ISFJ personalities themselves, must look after if they want the sort of long, fulfilling relationships they dream about. Expressing appreciation is often more than just the right words, it is reciprocation.
Long story short, its important for your partner to know that you're an ISFJ. For the sake of healthy relationship.

If these couples can manage this balance of mutual appreciation and goal-setting, they will come to find that the best ISFJ qualities emerge later in the relationship, as they work towards establishing families and homes together.

While perfectly capable in the workplace and among friends, ISFJs' true passions lie in taking care of their families, from playing with their children to the mundane needs of the household, efforts ISFJs are only too happy to contribute.

ISFJs are trustworthy, loyal, loving and faithful and nothing brings them more joy than the commitment of an appreciative and thriving relationship. The best matches are those who share these sensibilities, namely those who share the Observant (S) trait, with one or two opposing traits to ensure that both partners have room to grow, develop and help each other along, 'til the end of their days.

ISFJ FRIENDS



Given how generous ISFJs are with their warm praise and support, it's not surprising that others enjoy their company enough to call them friends. The challenge is to be considered a friend back – people with the ISFJ personality type are shy and a little protective of themselves, but they also need to be able to connect on a deeper emotional level. It makes sense then that most of ISFJs' friends are made not by random encounters on a wild night out, but through comfortable and consistent contact, as in class or in the workplace where they have the time to get to know each other little by little.
This is why I often shut myself. This is why I have my "6 month" rule

A lot of what establishes and deepens ISFJs' friendships is the mutual support, advice and reassurance that the friends give each other.

ISFJs need a lot of positive feedback, and admitting this need certainly shows vulnerability, but if that vulnerability is well handled, it creates the deep bonds that ISFJ personalities look for. If badly handled or not reciprocated, it's hard to see the burgeoning friendship surviving without quite a bit of extra effort.

Yet, as their friendships develop, ISFJs' sense of loyalty may push them to lean ever more on themselves to meet their friends' needs, to the point of neglecting their own. ISFJs show this in a few ways, from going clearly out of their ways to stick to even trivial commitments, to simply not wanting to disagree or say no for fear of causing turbulence. More cynical types would call this naïve, and may even take advantage of ISFJs' altruism – but these are hardly the type of people who could be called “friends”, and they have no business being discussed here.
Again, selflessness

The real friends, those close inner circles, are the ones ISFJs truly cherish for their quality of character and quality of discussion. Strangely for an Observant (S) type, ISFJs almost always have an Intuitive (N) friend among them, despite the implicit communication barriers. It's really not that odd though – these close friends are who ISFJs discuss deeper, more important matters with, and the quality of thought that Intuitives bring with them gives ISFJs' an impression of limitless depth, mystery and wisdom.
Yep, my deep inner circle mostly consist of someone who I usually discuss something with. From some random question, stupidity, to some serious and sensitive topic.
When I start chat you a lot, it means I try to make some bond.
Tahapan pertama biasanya adalah sesi random question, karena ini salah satu topik paling ringan yang pernah tercipta. Bakal ada beberapa random question yang kau terima.
Sekali, dua kali, tiga kali.
Kalo udah kayak lolos, I'll report my daily activities to you. So far as I remember, only one (or two) person achieved this stage. I hope there is any other person achieve this stage soon.

People with the ISFJ personality type aren't particularly picky about what personality types they make friends with, at least not initially, but because they prefer so strongly to avoid conflict and miscommunication, most of their friends end up being fairly similar types – fellow Introverted and Extraverted Feeling Sentinels (ISFJ and ESFJ). Thinking types are simply too critical, and Prospecting types too unreliable to really be able to provide, and receive, the kind of support and affinity ISFJs look for.
Maybe most of my friends consist of ISFJ or ESFJ. I don't know the exact who, since most of them don't know their own type. But some others consist of INTJ, ENTJ and ISNJ. Intinya, ga menutup kemungkinan, asalkan cocok.

CONCLUSION

Few personality types are as practical and dedicated as ISFJs. Known for their reliability and altruism, ISFJs are good at creating and maintaining a secure and stable environment for themselves and their loved ones. ISFJs' dedication is invaluable in many areas, including their own personal growth.

Yet ISFJs can be easily tripped up in areas where their kindness and practical approach are more of a liability than an asset. Whether it is finding (or keeping) a partner, learning to relax or improvise, reaching dazzling heights on the career ladder, or managing their workload, ISFJs need to put in a conscious effort to develop their weaker traits and additional skills.


Bagian berikutnya adalah Parenting, Career, and Workplace Habit. Karena ga terlalu signifikan buat ditulis disini, makanya gak gue masukin.
But if you still want to know, please reffer to this page.


So, setelah membaca penjelasan dari page diatas, berikut kesimpulan yang gue tarik:
1. Gue ISFJ-T, ISFJ dengan Turbulent (Perfectionist, Success-driven, Self conscious, care about their image)
2. We achieve our happiness by being useful to others. Membahagiakanmu adalah kebahagiaan terbesarku :)
3. Oleh karena poin 2, maka membuatmu kecewa adalah penderitaan terbesarku
4. Dilanjutkan lagi, hal ini juga membuat kami tidak suka menyusahkan orang lain. Walaupun sebenarnya kalian tidak merasa direpotkan, tapi selama kami tidak tahu akan hal itu, kami tetap berpikir bahwa kami merepotkan. So, We tend to do thing by ourself.

I think ISFJ is like a curse. Wear it like an armor, so it won't hurt you. Wear it like an armor, so it will protect you.

For you guys out there, I think its better for you who haven't known your personality type to take it.
Take it, know it, and have fun with it. Cheers


----------------------------------------------


Hmm sebenarnya sesi ini ga perlu, sih. Cuma pengen nambahin curcol cerita aja.

Duluuu, waktu jaman kuliah, pernah dapat jadwal penerbangan pulkam subuh.
Otomatis, tengah malam mesti ke Cipaganti, buat diangkut ke Bandara Soekarno-Hatta.
Nah, waktu itu males banget pesan taksi, dan males juga ngerepotin teman.
Akhirnya, gue jalan kaki sambil bawa tas jinjing (sampe sekarang belom punya koper yang ada rodanya), jalan kaki tengah malam sampai pool Cipaganti (2-3KM, maybe).
Self defense tool, bawa pulpen. Dengan harapan kalo ada yang macem2 di jalan, tinggal tusuk pake pulpen. 
Padahal loh yah, tinggal minta tolong anterin bentar, bakal lebih cepat dan aman.
(Waktu itu belum kenal bang Royco, yang bisa dimintain tolong :D)


And for present day, this problem still occur. For dinner party (party as in group, not party as in gathering for excitement),
I, who only have bicycle, often refuse offer just because the person's (with empty slot on their motorcycle) house is in different direction and far from the office. Simply because I dont want to bother them. So as long as they don't offer me a ride, I won't ask them. And often ended with I eat at my room.

You can call me stupid because I want you to understand me, but this is who we are, fellow ISFJ.

And, remember. Although we are Introvert, we love going out somewhere with our inner circle #Kode.


As usual, here I lay my pen down.

Baca Selengkapnya....

Kamis, 21 Mei 2015

Spring

Winterstorm has ended
But last spring’s scent still remain
Like it’s only yesterday
Yet it’s actually far away

My heart is whispering
Whether I should enjoy this thing
My brain is smirking
Whether I could forget the last spring

While I look upon the window
I see many people enjoy this season
Then I think I know
I want this spring for me
Only me

Although this spring is rather cold
It still draw a smile on my face
Throw a smirk
Steal a glance
Enjoy every single bit of its time

Dear spring,
Let’s have a dinner
Enjoying this cherry blossom
And the smiling moon
Just you and I



Yogyakarta, 21 Mei 2015

“Sambil cengar-cengir baca puisimu”

Baca Selengkapnya....

Senin, 13 Oktober 2014

"Zero Escape: Vitrue's Last Reward" dan "Total Lunar Eclipse"

Jadi kemaren 8 Oktober pas banget lagi momen Total Lunar Eclipse.
Pas banget juga hari gw beresin main Zero Escape: Virtue's Last Reward

Pertama2, mari bercerita tentang Total Lunar Eclipse dulu.


Sekitar 2 hari sebelum kejadian, tiba2 gw dapat chat yg berisi info bahwa bakal ada gerhana bulan total di tanggal 8. Yaa gw langsung nge-hype lah yah. secara fans benda2 langit.

Singkat cerita, sampailah di tanggal 8 Oktober
Semua acara sore itu dibatalin.
Nonton, nyari makan enak, ngambil duit, cancel semua.

Abis maghrib, keluar kamar, buka aplikasi Star Walk, dan ternyata bulannya kehalang bangunan tetangga. demm.

Langsung jalan2 keluar kosan, mencari spot yg tepat nyaman buat ngeliatnya.

sekian lama, ga juga nongol2. Hampir putus asa dan pengen balik, eeh ngeliat warung pempek. Makan dulu sambil terus ngeliat ke arah timur.

Eeh kebeneran banget, beres makan bulannya keluar
pas lagi merah2nya :))))))))))))))

Langsung bayar, cabut mencari tempat yg lebih lapang.
Sampai akhirnya nongkrong depan JEC, spot nya persis ngehadap ke timur, gelap, sepi, cocok buat stargazing :3

Masih ingat rasanya betapa hype nya saat itu.
Ketawa ketiwi sendiri.
Senyum2 sendiri.
Hampir teriak ama joged2 dah saking girangnya.


Oke skip buat gerhana bulannya



Lanjut ke Zero Escape: Virtue's Last Reward (VLR)

Jadi dulu pas awal punya 3DS, dan masih ga punya game 3DS kecuali Monster Hunter 3 U (Sekarang udah punya 15an dan terus bertambah @_@) kerjaan main game NDS bajakan (iya, bajakan. Maap)
Dan tiba2 main 9 Hours 9 Persons 9 Doors, seri pertama dari Zero Escape series.

Secara, gw seneng main yg genre escape game, ya langsung kepincut lagi.
Cuma sempat main 1 jam, trus masukin backlog
dan sampai sekarang itu 999 masih belum disentuh lagi @_@

Trus sekitar akhir tahun 2013, akhirnya beli Zero Escape seri 2, ya itu si Vitrue's Last Reward buat 3DS.
Dan sama, mainin beberapa jam, trus balikin ke backlog @_@.

Dan bulan lalu, beli lagi VLR, tapi versi Vita.
Yap, gw punya 2 cart VLR.
Game nya sama persis, cuma beda console aja.

Dan pas gerhana bulan itu, pas banget semingguan lagi berusaha namatin VLR.
Dan di VLR, salah satu topiknya adalah gerhana bulan total juga.
Wooow


Okeskip lagi curhatnya

VLR menurut gw adalah salah satu game dengan story terbaik yg pernah gw mainin.
Game lain dengan alur mirip dan sama2 epic adalah Radiant Historia, cuma genre nya RPG.
Game lain dengan tema mirip VLR, Danganronpa, berasa kebanting jauh dibandingin VLR. Tapi VLR rasanya ga sebegitu nge-boom Danganronpa deh @_@

VLR sama kayak pendahulunya, si 999, ceritanya tentang 9 orang dijebak di bangunan oleh seseorang yg (kode) namanya Zero, disuruh main nonary game (kalo binary itu basis 2, kalo nonary itu basis 9 katanya)
9 orang ini mainin game lain yang nyangkut2 ke Prisoner Dilemma (disini jadi ingat Liar Game wkwkwk) biar bisa keluar dari bangunan itu
Dan diinfokan bahwa si Zero ternyata salah satu dari 9 orang itu.
Mak, apa ga makin jadi itu prisoner dilemma

Di awal2 banyak banget misteri, hal hal ga jelas yg dilontarkan di sela2 cerita.
Dan yang awalnya dikira becandaan, ujung2nya pas tamat ternyata jadi kebenaran yg sangat mengejutkan.
Semacam kenapa si Phi bilang kata2 'itu' pas pertama ketemu Sigma di Ambidex Room,
Gimana jalan cerita dibuat sedemikian rupa buat menggiring player biar ketipu, dan bikin player banting console pas tau endingnya
(Satu2nya yang pernah bikin gw punya perasaan gini cuma buku Agatha Christie yg judulnya The Murder of Roger Ackroyd),
Gimana ternyata semuanya cuma buat satu tujuan,
Gimana 9 orang itu jadi terpilih, dan background mereka

Suatu hari sempat nyari info tentang satu orang, dan kebetulan kena major spoiler di siapa itu Zero sebenarnya
saat itu maininnya jadi setengah hati gitu deh.
eeh ternyata pas ending, spoiler itu ga berarti apaapa
masih banyak kebenaran yg lebih mengejutkan di akhir cerita.

Intinya gw bakal rekomendasiin ini game buat yg seneng escape game, story bagus, range 30jam kelar

Kasi skor 10/10

Baca Selengkapnya....

Senin, 29 September 2014

Membahagiakanmu Itu (Kayaknya) Gampang


Jadi malam sabtu kemaren nunjukin foto2 mereka ke pantai sambil bilang:
"Bagus kaan~"
Refleks gw jawab:
"Sori, gw ga suka pantai"
Dan dibalas:
"Lah terus lu sukanya apa?"
*Sekuat tenaga nahan biar ga jawab "Kamu~" :p*

Terdiam sesaat, gw mikir.
Bener juga yah, gw sukanya apa @_@


Dan alhasil, jadilah list2 berikut, spesial gara2 si Isma. Silakan~~


1. Stargazing


YES!! Hal paling seru yg bisa dilakukan sendirian ato rame2.

Jadi ingat pas jaman kuliah sering naik ke atap kontrakan, trus menatap keatas beberapa saat. Sambil menikmati hening dan dinginnya malam di Bandung. Joss.

Pas jaman masih bisa naik ke lantai 4 gedung N kampus juga ga kalah seru. Ngumpul bareng menikmati malam, sambil berbagi cerita.
Alangkah indahnya

Dulu pas jaman SMP ato SMK (ya, lupa) gw pernah beli buku Astronomi.
Gw tinggal di rumah, dibaca ama adek, dan walhasil dia tiba2 ikut OSN Astronomi. wkwkwk


2. Hujan


Sempat lupa ama yg satu ini.
Hujan deras banget, sambil duduk di teras menikmati angin dan petrichor,
apalagi kalo bisa keluar, sambil mandi hujan.
Hmmm~~ Bahagia itu sederhana


3. Jalan2 Bareng Geng

Hura2. Entah itu makanmakan, nonton, wisata, ato bahkan karaoke.
Asal bersama kalian, semua terasa indah :p


4. Main Air


Walau gw ga suka pantai, tapi gw suka main air.
Semacam rafting, tubing, kolam renang, sea world, dan kawan2nya


5. Museum


Entah kenapa gw bahagia kalo diajak ke museum, padahal gw amat ga suka ama pelajaran sejarah pas SMP (terakhir dapet cuma sampe SMP :p).
Dengan gw suka museum, bukan berarti gw suka liat candi.


6. Kebun Binatang / Taman Safari


Yang lainnya adalah hewan2an.
Entah kenapa juga sedari kecil gw seneng banget nonton acaranya Rob Bredl, Steve Irwin, dan yang sejenisnya. More than I love cartoon/anime
Mungkin udah bawaan dari lahir :p


7. Toko Buku


Yak, satu2nya belanja yang gw demen adalah belanja buku.
Oleh karena itu toko buku adalah salah satu tempat paling membahagiakan di dunia :3
Salah satu impian gw adalah punya rumah dengan satu ruangan khusus buat nyimpan buku, sama baca. Kursinya enak, sambil diiringi musik2an yg menenangkan. Aaah~


8. Steak dan Cheesecake



Dua makanan favorit, nuff said.


9. Mainan Aneh


Jadi kebetulan kemaren liat mas Dali mainin paper shredder.
Dan, tentu saja gw langsung ikutan. wkwk
Trus mba Ulin ngeliat dan bilang:
"Wah, kalian ternyata gampang dibikin senang. Sama kayak aku, tinggal dikasih makanan udah senang. Kita murahan. Hahaha"


10. Foto


Sejujurnya gw ga suka difoto, secara gw ga narsis.
Pas wisuda aja ogah2an difoto.
Dengan satu pengecualian, foto yg 'menggelitik' imajinasi gw. Semacam foto aneh/unik ato "kayaknya kalo posenya gini bakal mengekspresikan kegalauan yang teramat sangat" dan semacamnya



Sekian edisi curhat kali ini~
Again, I lay my pen down.

Baca Selengkapnya....