Kamis, 10 September 2015

Worlds of Mine; Act Two

We live on the same worlds.


The fourth world where we live in
Created from eternal flowers
But since the world turns cold
Now those flowers are withering

The third world where we live in
Created from well-made fireworks
But since the world turns cold
Now those fireworks are dud

The second world where we live in
Created from transparent glass
But since the world turns cold
Now that glass are cloudy

The first world where we live in
Created from eternal ice
But since the worlds turn cold
Now those ice are invading


Although the sun has gave up on me, on us
Although my knees eager to drop
I will keep traveling on this road
Spiky, icy road



Yogyakarta, 10 September 2015
"No, not a go!"

Baca Selengkapnya....

Rabu, 09 September 2015

Kambing dan Hujan oleh Mahfud Ikhwan


Pertama kali sadar akan kehadiran buku ini adalah saat gugling buat nyari bukunya Kurniawan Gunadi yang berjudul Hujan Matahari. Keesokan harinya hunting ke toko-toko buku lokal buat nyari itu Hujan Matahari. Ga nemu, dan ga bakal nemu. Wong itu buku self publishing, dan mesti preorder ke pengarangnya.

Seperti biasanya, kalo udah mampir toko buku pantang pulang sebelum beli sesuatu. Saat itu terlihatlah seorang akhwat yang berjalan cepat, lalu menyambar buku bersampul hijau, kemudian berlalu. Buku Kambing dan Hujan, dengan warna hijau mentereng diantara buku-buku lainnya.

Coba dipegang, ada tulisan "Pemenang I sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2014".

"Wooo! Ini buku sakti!", pikirku saat itu. "Tapi kok 'kesan dan pesan' pembacanya kurang representatif, bukan dari kalangan penulis"

Dan akhirnya berujung dibeli.

Mari kita coba kupas pelan-pelan buku ini.

Di sampulnya tertulis "Roman". Roman pertama dan terakhir yang pernah kubaca adalah "Bumi Manusia"nya Mbah Pram, setahun lalu (setahun lalu buku ini masih langka, sekarang berhamburan setelah cetak ulang). I put low expectation on this book, at first.

Baca halaman-halaman awal, kesan yang kudapat adalah "Bah, ya kan. Kisah cintacinta anak muda kekinian. Yang cewek aja udah mau kabur dari rumah gini. Ckck."

Beberapa lembar kemudian

"Asem! Tema yang diangkat sensitif banget. Ini mah cinta 'beda keyakinan'" Yang satu anak pembesar Masjid Utara, yang satunya anak pembesar Masjid Selatan. Parahnya, kedua masjid beda 'aliran' itu berseberangan, dan agak kurang akur.

Sampai seperlima buku, akhirnya tersadar kalau ini buku bukan kisah cinta menjijikan sepasang muda-mudi yang kebelet kawin tapi terhalang kedua keluarga yang saling benci.

Tema sensitif, dibungkus dengan gaya penulisan yang ringan dan renyah, kisah cinta sepasang muda-mudi yang tidak biasa, bromance yang manis, alur maju mundur yang membuatku serasa sedang menyusun puzzle kronologi, dan ending yang sangat menyentuh (menurutku). Fiks, novel ini jadi salah satu novel Indonesia terasyik yang pernah kubaca.

Baca Selengkapnya....

Senin, 07 September 2015

Otak Kanan

Otak kanan sering diidentikkan dengan kreativitas seseorang. Seseorang yang karya seninya bagus, entah itu dalam bentuk tulisan, puisi, ataupun gambar katanya mempunyai otak kanan yang berkembang.

Otak kananku macet.

Katanya juga, bagian tubuh sebelah kiri dikendalikan oleh otak sebelah kanan. Karena itulah aku menggosok gigi (sejak 2009) dan menggunakan mouse (sejak 2014) di kanan kiri.

Alhamdulillah sekarang sudah bisa pegang sumpit ama sendok sup di tangan kiri.
Alhamdulillah sekarang sudah bisa pegang pisau steak di tangan kiri.
Alhamdulillah sampai sekarang masih belum bisa menggambar.

Karena itu pula aku sangat menghargai mereka yang berjuang menggunakan otak kanannya. Dan kalau yang berniat atau sudah mendalami dunia persenian, I'll try my best to help 'em.

Membeli karya artist lokal (terutama yang masih self publishing, entah itu buku, komik, artbook, sampe pin maupun gantungan kunci) sampai nyari bahan belajar (pernah nyariin wacom sampe buku mewarnai untuk dewasa), dan berharap mereka akan terus berkarya.

"Tidak perlu terburu-buru membuat sesuatu yang 'besar'. Lahirkan sesuatu yang kecil saja dulu, lalu rawat dengan baik hingga tumbuh kebanggaan telah membesarkannya. Terkadang kita lupa, ambisi yang berlebihan untuk terlihat rupawan cenderung lebih cepat menjatuhkan. 'Tetap rendah hati dan penuh semangat' - Netra." - Sweta Kartika



These images below are taken from Tigera's blog

























Yogyakarta, 7 September 2015
"For everyone who loves to create"

Baca Selengkapnya....

Kamis, 03 September 2015

Ship of Theseus - Kapal Theseus

Alkisah, sekembalinya dari Kreta, para penduduk Athena menyambut kedatangan Theseus. Dan karena itu pula lah penduduk Athena memutuskan untuk mengawetkan kapalnya; Kapal Theseus.

Karena kapalnya terbuat dari kayu, setiap kali ada yang lapuk mereka menggantinya dengan yang baru. Lama kelamaan, semua bagian kapalnya sudah diganti dengan kayu yang baru.

Hal ini menyebabkan perdebatan di kalangan penduduk; Masihkah kita bisa menyebut kapal itu Kapal Theseus? Padahal setiap bagiannya sudah diganti dengan yang baru.


Gambar dari presentasi Jennifer Wang


Jenis lain dari paradox ini adalah Locke's Socks; Kaus Kaki Locke.

Ceritanya si Locke mempunyai kaos kaki. Suatu hari kaus kakinya berlubang. Dia kemudian menambal lubang tersebut dengan kain. Beberapa lama kemudian, bagian lain dari kaus kakinya berlubang. Dia pun menambal lubang itu. Begitu seterusnya sampai akhirnya kaus kakinya itu berbentuk sambungan beberapa kain, dan tak ada bagian asli dari kaus kakinya yang tersisa.

Masihkah kaus kaki itu bisa disebut kaus kaki Locke?


Sudah mulai pusing? Coba perhatikan contoh modifikasi dari kasus kapal theseus ini:

Misalkan kapal Theseus terbuat dari dan hanya dari 1000 batang papan. Setiap harinya satu papan dilepas dan diganti dengan papan yang baru. Dalam 1000 hari kapal itu sepenuhnya terbuat dari papan yang baru.


Gambar dari presentasi Jennifer Wang


Misalkan papan yang dilepas tiap harinya dari kapal Theseus itu dipergunakan untuk membuat kapal baru yang SAMA PERSIS dengan kapal Theseus. Kapal manakah yang cocok disebut Kapal Theseus?

Apakah kapal pertama yang tiap bagiannya diganti setiap hari?

Apakah kapal kedua?




Beberapa cerita yang pernah kutulis juga kurang lebih sama. "Ambil suatu kisah sebagai acuan utama, tambahkan poin dari kisah lain"

Misal aku mengambil tokoh X sebagai tokoh utama. X sendiri adalah tokoh yang memang benar ada di dunia nyata. Cerita yang ditulis menjelaskan apa yang 'mungkin' dirasakan si X, tetapi melalui pemikiranku. Dan ujung-ujungnya, ditambah beberapa poin lain.


Masihkah itu bisa disebut kisah tentang si X?





Yogyakarta, 3 September 2015
"Untuk orang-orang yang kisah hidupnya kuambil, dan kukacaukan"

Baca Selengkapnya....

Kamis, 27 Agustus 2015

Gift #2: Prosopagnosia = Face Blindness = Buta Wajah

Prosopagnosia


Nama itu mungkin terdengar asing di telinga kalian. Memang, nama ini masih jarang diketahui khalayak ramai. Beruntunglah kalian karena aku akan berbagi sedikit ceritaku disini, menjelaskan tentang makhluk gaib ini.

Prosopagnosia adalah gabungan dua kata bahasa yunani: "prosopon" yang berarti "wajah", "agnosia" yang berarti "tidak mengenali". Bahasa kerennya adalah Face Blindness - Buta Wajah. Singkat cerita, kau tidak bisa mengenali seseorang dari wajahnya, even their own face.


Belum kebayang? Coba lihat gambar-gambar dibawah ini




Kenal ama orang-orang itu? Coba kita balik fotonya:





Yang pertama itu Brad Pitt (Mr & Mrs Smith), yang kedua itu Keanu Reeves (The Matrix), yang ketiga itu Rowan Atkinson (Mr Bean)

Agak susah untuk mengenali kalau wajahnya terbalik, kan? Ini adalah pendekatan paling mudah bagi orang normal untuk merasakan apa yang dirasakan penderita prosopagnosia.

Awalnya kupikir ini kondisi normal. Kupikir orang-orang lain juga mengenali seseorang bukan dari wajahnya, tapi dari ciri fisiknya. Tapi makin kesini aku akhirnya mengerti bahwa aku berbeda.

Lalu bagaimana cara kami mengenali orang? Cara paling gampang adalah ornamen yang digunakannya. Entah itu model dan gaya rambut, warna bingkai kacamata, atau dari baju yang biasa dipakai.

Cara tersebut tentu saja tidak efektif. Pernah suatu ketika seseorang menghampiri dan berbicara kepadaku. Aku tentu saja bingung karena tidak merasa mengenalnya, tetapi dia berbicara dengan begitu akrabnya. Seakan-akan kami sudah kenal lama. Melihatku bingung, dia lalu mengikat rambutnya ke belakang membentuk ponytail. "Ini gue, woi". Disitulah aku baru bisa mengenalinya.

Terus dia lepas lagi ponytailnya. Pasang lagi, lepas lagi. Pasang lagi, lepas lagi. Disitu ada perasaan unik yang sulit dijelaskan melalui kata-kata; orangnya tetap diam disitu, namun kau merasa bahwa kenal dan tidak mengenalnya secara bergantian.

Itu satu. Pernah juga ada kejadian kayak gini:
Hari ini jadwal kuliahku penuh dari pagi sampai sore. Pagi itu setibanya di lingkungan kampus, tiba-tiba aku berpapasan dengan seseorang, yang kemudian dicurigai adalah dosen. Ia pun berkata "Eh kuliah kita nanti ditiadakan, yah. Saya ada urusan mendadak. Tolong jangan lupa kasih tau teman-temannya yang lain", lalu dia berlalu begitu saja.

Jreeeng.
Itu tadi siapa?

Oleh karena itu, aku juga sering dicap sebagai orang yang sombong. Hanya karena aku tak menyapa seseorang pada saat berpapasan di jalan. Sebenarnya itu terjadi bukan karena sombong, cuma karena aku tak mengenali wajahnya.

Kejadian-kejadian diatas itu masih kurang greget. Kejadian dibawah ini jauh lebih greget.

Saat itu teman-temanku sudah mengetahui bahwa aku agak susah mengenali seseorang kalau hanya dari wajahnya saja. Suatu hari mereka iseng-iseng mengetesku.

Mereka membawa beberapa lembar foto wajah yang sudah mereka edit. Yang tersisa di foto itu hanya tinggal bagian wajah, persis seperti gambar-gambar yang kulampirkan diatas. Tentu saja habis itu mereka menyuruhku untuk menebak-nebak.

"Coba tebak ini siapa. Ini masih salah seorang dari kita-kita yang ada disini, kok"

Aku dengan malas menebak siapa yang ada di foto tersebut, dan beberapa foto lainnya. Ini sama saja seperti orang awam disuruh baca hieroglif mesir, percuma. Setiap aku salah menebak, mereka menertawakan jawabanku. Kalau bukan karena mereka sobat dekatku, mungkin saat itu aku sudah marah.


"Ini yang terakhir. Kali ini spesial, orangnya kamu pasti kenal baik. Tapi, bukan salah satu dari kami"

Astaga. Yang biasa aja susah, apalagi yang spesial kayak gini. Dengan lebih malas aku menyebutkan beberapa nama, sampai akhirnya aku kehabisan nama untuk disebut.

"Nyerah, deh. Jadi yang ini siapa?" keluhku.
"Yakin? Beneran lu juga ga kenal ama yang satu ini? Coba lagi dah", desaknya.
"Udah, mentok", keluhku lagi.
"Ini... foto... Ibumu", ucapnya pelan.

Siiing. Hening.

Seketika itu juga aku terdiam. Mataku masih memandang lekat pada foto yang terpampang di meja itu. Perlahan aku menjulurkan tanganku untuk mengambilnya. Kudekatkan foto itu ke mataku, untuk mencari ciri-ciri yang menyatakan bahwa itu adalah benar ibuku. Sejurus kemudian, aku menyerah. Aku tetap tidak bisa mengenalinya.

Foto itu masih kupandangi lekat. Aku merasa durhaka. Bayangkan saja, kau tidak bisa mengenali seseorang yang membesarkanmu dengan sabarnya. Rasanya seperti kau tidak menghargai pengorbanannya. Akupun ikhlas kalau saat itu juga dikutuk menjadi batu seperti Malin Kundang.

"Oh...", ucapku pelan, datar.

Aku tertunduk, berusaha keras menahan agar air mataku tak sampai mengalir.

Hari itu aku menyadari betapa irinya aku pada teman-temanku yang normal.


-------------------------------------------------

Yo, here we meet again.

Pertama kali gue kenal ama yang namanya prosopagnosia ini pas maen 9 Hours 9 Persons 9 Doors. Terus karena penasaran, akhirnya browsing2, dan akhirnya gue berpikir "Ini musti disebarkan! Orang-orang harus tahu!"

Jadi, setelah ini semoga kalian sadar bahwa di dunia ini ada yang namanya prosopagnosia. Dengan begitu diharapkan kalian bisa memahami bahkan menerimanya. Ultimately, I hope we can find workaround for this problem since there is no treatment available for it right now.

Oh, gambar-gambar diatas diambil dari sini



Yogyakarta, 27 Agustus 2015

Baca Selengkapnya....

Selasa, 25 Agustus 2015

Balada Anak Muda 2015


Tiba-tiba kemaren dapet beginian :)

Baca Selengkapnya....

Senin, 24 Agustus 2015

Rain of Posts

Beberapa bulan belakangan banyak post yang mengalir di blog ini. Alasannya simpel, tiba-tiba muncul hasrat buat nulis.

Sebenernya ga sepenuhnya gara itu aja. Tiba-tiba buanyaaaaaaaak inspirasi yang dateng. Daripada dibiarkan menguap gitu aja, mending sekalian ditulis. Lumayan buat 'senyum-senyum' di masa depan.

'Senyum-senyum'? Iya, senyum. Bikin timbul perasaan "Idih. Gue dulu ternyata kayak gini, yah". Pernah ngalamin, kan? Kalo belum pernah coba kalian ubek-ubek post beberapa tahun lalu kalian di Media Sosial.

Oke, sekip.

Ini inspirasi datengnya juga ga menentu. Kadang pas baca, kadang pas main, kadang pas kerja, kadang pas mengenang masa lalu, kadang pas boker. Paling sering, pas mau tidur.

Bayangin. Pas belum ngantuk tapi udah saatnya tidur. Kan itu dipaksa-paksa buat tidur, yah. Karena itu juga pikiran biasa melayang-layang entah kemana. Dan tahu-tahu malah dapet ide cerita. Alhasil, bukannya tidur, malah nulis konsep :(

Anyway, bentuk post yang ditulis juga macem-macem.

Pertama, Cerpen.
Ini bentuk paling simple, idenya paling gampang. Biasanya gue nulis pake sudut pandang orang pertama dan Theory of Mind (yang niatnya bakal dijelaskan di post berikutnya). Cerpennya ga sependek yang ada di majalah Bobo :)


Kedua, Teori.
Sesuai namanya, ini biasa diisi teori-teori ga jelas. Sekarang udah jarang nulis ginian gara-gara idenya susah.


Ketiga, Curhat.
Contohnya, kayak yang satu ini. Nuff said.


Keempat, Puisi.
Gue, yang sedari dulu gaaak pernah suka dan paham ama puisi, tiba-tiba nulis puisi. Mungkin buat mereka yang sudah biasa mengapresiasi puisi, yang gue buat ini belom bisa dibilang puisi beneran.

Kalau ada beberapa ide yang berbau-bau melankolis dan susah diungkapkan melalui cerpen, entah karena flagnya kurang, karena sekedar kurang sreg, atau cuma karena pengen bikin sesuatu yang amat sangat tersirat, biasanya langsung diramu menjadi bentuk ini.


Wasalam.


Yogyakarta, 24 Agustus 2015
"To my future self. Someday you will surely smile while reading this :)"

Baca Selengkapnya....