Rabu, 30 Maret 2016

Double Standard

Double standard atau biasa disebut standar ganda. Pernah mendengar istilah ini?

Ya, standar ganda disini maksudnya adalah memperlakukan sesuatu secara berbeda (cenderung tidak adil) kepada orang yang berbeda.

Standar ganda adalah sebuah logical fallacy alias cacat-pikir yang seharusnya dihindari. Begini contoh cerita standar ganda:


Pada jaman dahulu kala, alkisah ada 3 orang yang pergi ke bioskop. Sebut saja mereka Ksatria, Putri, dan Pengharum Ruangan. Pengharum Ruangan adalah orang yang sensitif terhadap gangguan. Jika dia sedang berada di mode 'serius', humming dari seseorang pun mampu memecah konsentrasinya dan membuatnya kesal. Di sepanjang film, si Putri banyak sekali mengomentari kejadian-kejadian yang ditampilkan. Pengharum Ruangan pun merasa terganggu. Sebagai sesama penikmat film, Pengharum Ruangan bingung kenapa sang Ksatria tidak merasa terganggu.

Beberapa tahun berselang, akhirnya terjadi kejadian menarik. Pengharum Ruangan pergi menonton film bersama Obat Nyamuk. Di sepanjang film, Obat Nyamuk juga sering mengomentari scene di film. Anehnya, kali ini Pengharum Ruangan tidak merasa terganggu dan malahan tersenyum-senyum sendiri.

Setelah mereka pulang, Pengharum Ruangan pun tersadar bahwa dia baru saja mempraktikkan standar ganda.

Pengharum Ruangan akhirnya mengerti mengapa sang Ksatria tak merasa terganggu dengan celotehan Putri sepanjang film.

"Kalau yang tiap hari nge-humming itu adalah Obat Nyamuk, mungkin aku juga tak akan merasa kesal," pikir Pengharum Ruangan.

TAMAT


Yogyakarta, 30 Maret 2016
"On my way to slacking-off land"

Baca Selengkapnya....

Senin, 28 Maret 2016

Informasi

"Di antara 'informasi yang didapat dari menerka-nerka' dan 'informasi yang didapat langsung dari sumbernya' terdapat sebuah jurang pemisah yang sangat besar"


Bayangkan sebuah kondisi:
Kamu sedang mengikuti SNMPTN. Karena sudah belajar dengan sangat keras, saat mendapatkan lembar soal, terbesit di pikiranmu "Ini serius soalnya kayak gini?!". Pada akhirnya kau hanya memerlukan 75% dari waktu yang diperlukan, sementara peserta lain menyesapi setiap detiknya hingga detik terakhir. Terlepas dari seluruh rasa percaya diri itu, di ujung pikiranmu ada secuil rasa khawatir karena masih ada kemungkinan gagal.

"Bagaimana jika soal-soal itu penuh jebakan? Semua yang terlihat mudah sebetulnya hanyalah tipuan"
"Bagaimana jika 'uang persembahan' untuk kampus dinilai kurang?"

Dan akhirnya malam-malam mu dihiasi mimpi buruk karena khawatir.

Setelah nomor pesertamu terpampang di koran nasional, akhirnya mimpi-mimpi buruk itu berakhir.



Contoh kasus kedua:
Di waktu yang agak mepet, kamu mengajukan permohonan visa. Karena kamu malas pergi ke kedubes, akhirnya kamu menggunakan jasa tour travel. Pihak tour travel menyanggupinya, dan berkas-berkas yang diperlukan pun diberikan kepada mereka. Pihak tour travel memberitahukan bahwa kabar terbarunya akan didapat sekitar seminggu sebelum keberangkatan.

Selama penantian itu, dirimu merasa was-was. Walaupun beberapa orang telah meyakinkanmu bahwa selama dokumennya lengkap, permohonanmu tak akan ditolak. Namun di ujung pikiranmu tetap terbesit rasa khawatir. Pasalnya, tak mungkin lagi mengajukan ulang permohonan dalam kurun waktu seminggu yang tersisa.



Contoh kasus ketiga:
Setelah mengamati gerak-gerik seseorang selama kurun waktu beberapa bulan, antenamu menangkap sedikit sinyal-sinyal aneh. Asumsimu menyimpulkan bahwa orang itu menyukaimu. Beberapa teman dekatnya juga meng'iya'kan asumsimu itu. Tapi bagi pikiranmu, ini tetaplah hanya sebuah asumsi. Semua perlakuanmu kepadanya tetap tak berubah.

Akan tetapi, akankah semua itu tetap seperti semula seandainya jurang itu tertutup? Saat yang tadinya 'asumsi' menjelma menjadi sebuah 'fakta' yang valid. Saat tiba-tiba dia berkata "You do notice and realize that I like you, right?"



Yogyakarta, 28 Maret 2016
"Nge-random pagi-pagi. Hindsight bias?"

Baca Selengkapnya....

Senin, 21 Maret 2016

Goceng

"Makasih, Wam"
"Goceng"
"Goceng doang, nih?"
"Segitu (goceng) aja belom ada yang pernah bayar, loh"

Setelah bertahun-tahun percakapan seperti ini berlangsung kepada beberapa orang, akhirnya dapet balasan 'agak' serius:
"Huahauhaahahaa. Oke guwa bayar!"

Besoknya langsung terima selembar goceng:



Sayang gak ada tanda tangan, cap jari, ato cap bibir.


Besoknya lagi, ada paket datang dari Banda Aceh. Didalamnya juga ada ini:



Chronologically, yang dari Aceh dikasih duluan. Persis sehari sebelum dapat balasan 'agak' serius itu. Tapi yang dari Aceh nyampe nya belakangan. So, it's still number 2 :p

Baca Selengkapnya....

Jumat, 18 Maret 2016

15 Tahun, 6 Buku, 99 Keping; Supernova

Supernova adalah seri yang baru kudapati eksistensinya sekitar 4 tahun yang lalu. Sebagai seseorang yang hidup dan besar di pedalaman Kalimantan sampai tahun 2009, Supernova sangat jauh dari jangkauan. KPBJ, Akar, dan Petir, ketiganya rilis sebelum tahun 2006, dirilis saat saya masih dalam-dalamnya di pedalaman. Jauh dari peradaban bernama Toko Buku. Pada saat peluncuran Supernova #4: Partikel, saat saya sudah berkuliah di Bandung, barulah saya mengetahui adanya seri ini.

Waktu itu saya sedang mengunjungi sebuah toko buku diskon di Bandung. Biasa, lagi belanja bulanan. Dari pintu masuk langsung disambut sekumpulan buku dengan cover hitam dan simbol-simbol aneh sebagai sampulnya. Don't judge the book by its cover. And I judged it by its cover. Hitam, simbolnya aneh, pengarangnya orang Indonesia. Ya, waktu itu saya masih skeptis dengan novel karangan orang Indonesia. Udah gitu, gaada tulisan bestseller atau semacamnya di sampul. Akhirnya buku-buku itu dicuekin begitu saja.

Tahun demi tahun berlalu. Melewati Rectoverso, Madre, dan Perahu Kertas yang dijadikan film. Sampai akhirnya tiba di penghujung 2014, saat seorang maniak buku mengirimkan gambar Supernova #5: Gelombang yang baru saja dibelinya. "Ini buku apaan?" batinku bingung.


Dengan senang hati dan menggebu-gebu, sang maniak menjelaskan gambaran besar tentang Supernova. Mulai dari siapa pengarangnya, sampai bagaimana isinya bisa memberikan pengaruh pada kehidupan orang lain. Saat inilah aku bertekat mencoba Supernova.

Novel Dewi Lestari (Dee) pertama yang kupunya adalah Rectoverso, sekitar tahun 2015. Edisi tebal dengan kertas berat dan beberapa ilustrasi yang ciamik. Cerita dan lagu di dalamnya sukses membuatku jatuh cinta terhadap gaya penulisan Dee. Dan disini pula lah tersadar bahwa Dee adalah orang yang menyanyikan lagu Malaikat Juga Tahu. Gosh, telat banget!

Setelah itu beli Filosofi Kopi, Madre, dan Perahu Kertas. Akhirnya makin cinta sama gaya nulisnya *kyaaaaa*. Inilah saat-saat yang menandakan perburuan buku Supernova dimulai.

Buku Supernova sebenarnya berhamburan di semua toko buku besar. Tapi sebagai seseorang yang 'agak' perfeksionis, mencari buku Supernova ini menjadi sesuatu yang susah. Tak lain dan tak bukan karena edisi yang beredar di pasaran adalah edisi cetak ulang dengan ukuran lebih kecil (travel size). Selain itu covernya juga tidak berwarna hitam polos. Cih, kemaren benci ama covernya yang hitam polos, sekarang malah cinta.

Perburuan di beberapa toko buku lokal tak membuahkan hasil. Begitu juga beberapa toko buku online kesayangan, sama-sama out of stock. Akhirnya, mencoba mencari buku bekas ke Kaskus. Memang kalau jodoh pasti bertemu, ditemukanlah Supernova 1-5 dengan ukuran besar dan cover hitam. ASLI. Beberapa bukunya masih segel, pula. Dibandrol dengan harga 300k termasuk ongkos kirim dari Makassar.


Supernova #1: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ)



Dirilis sekitar tahun 2001, adalah pembuka dari seri Supernova. Novel ini terkenal dengan bahasanya yang berat, dan topik yang agak sensitif untuk diangkat. Karena isinya yang campur aduk, banyak orang yang bingung meletakkan buku ini dalam genre mana.

Berkisah tentang 'sepasang kekasih' yang menulis sebuah novel. Tanpa mereka sadari, apa yang mereka tulis di novel itu juga terjadi di dunia nyata. Sampai akhirnya mereka dihubungi oleh cyber avatar yang disebut Supernova.

Dalam satu buku ini, Dee sukses membuat saya jatuh cinta pada sosok Diva (walaupun profesi sang Diva ini adalah seorang...). Alhasil, ditamatkan dalam waktu kurang dari seminggu.


Supernova #2: Akar


Sekuel dari KPBJ yang dirilis tahun 2002 (kalau tidak salah). Logo yang terpampang di cetakan pertamanya mengundang kontroversi, sehingga pada cetakan kedua dan seterusnya digunakan logo Flower of Life.

Walaupun ini adalah sekuel, namun cerita yang disampaikan sama sekali berbeda. Tokoh dalam novel kali ini, Bodhi, pun adalah tokoh yang sama sekali baru. Tokoh-tokoh di buku KPBJ pun tidak pernah masuk dalam cerita si Bodhi.

Kalau buku pertama mengisahkan tentang cinta (dan beberapa istilah rumit), buku Akar ini mengisahkan perjalanan hidup seorang anak yatim piatu bernama Bodhi di beberapa negara. Mulai dari Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, lalu kembali lagi ke Indonesia. Semua dilakukan dalam rangka pencarian jati diri.

Selama kunjungan di Thailand, Bodhi bertemu seseorang bernama Kell yang mengajarinya seni tato, yang akhirnya menjadi 'profesi'nya sekembalinya ke Indonesia.

Overall, buku ini gak kalah 'berat' bila dibandingkan dengan KPBJ. Ditamatkan dalam waktu beberapa hari kerja.


Supernova #3: Petir



This is my favorite book from the entire series.

Lagi-lagi, walaupun ini sekuel dari dua buku sebelumnya, namun hampir tak ada kaitannya sama sekali dengan KPBJ ataupun AKar.

Berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Elektra Wijaya, atau lebih akrab dipanggil Etra. Etra hidup dengan kakak perempuannya yang bernama Watti (yap, dobel t), dan ayahnya (dipanggil Dedi, plesetan Daddy) yang bekerja sebagai tukang servis barang elektronik.

Setelah Dedi meninggal, dan Watti menikah lalu pindah ke Papua, Etra harus hidup sendirian di Bandung. Berbagai rangkaian peristiwa mengantarkannya kepada beberapa orang penting dalam hidupnya. Etra yang tadinya culun, berubah menjadi seorang terapis listrik.

Kenapa buku ini favoritku? Etra sebenarnya adalah tokoh paling 'biasa' (arguable) yang ada di seluruh seri Supernova. Namun kisah perjalanan hidupnya adalah yang paling masuk akal diantara seluruh seri. Sebagai pecinta roman (tolong bedakan dengan romance), Akar dan Petir sukses membuatku semakin cinta kepada Dee. Tapi Petir ini sarat dengan kejadian yang saling berhubungan. Butterfly Effect kalo bahasa kerennya. Kalau diartikan secara kasar, artinya adalah suatu kejadian yang memicu kejadian lain di masa depan. Ya, Petir penuh dengan kejadian seperti itu. Terlebih lagi, kisah Etra dibumbui dengan begitu banyak humor.

Hidup Etra! #TeamEtra

Untuk pertamanya, seri Supernova kuhabiskan dalam satu hari kerja.


Supernova #4: Partikel



Terbit sekitar tahun 2012, 8 tahun sejak terbitnya Petir. Jeda waktu yang sangaaat lama jika dibandingkan dengan buku sebelumnya. Selama jeda 8 tahun itu, Dee menulis beberapa novel lain. Salah satu diantaranya adalah Perahu Kertas.

Seperti dua buku sebelumnya, Partikel juga merupakan roman dari si tokoh utama. Kali ini tokoh utama kita bernama Zarah Amala. Ayah Zarah, Firas, mendidik Zarah dengan cara yang sangat berbeda dari anak seusianya. Zarah tidak bersekolah, namun diajarkan langsung oleh Ayahnya yang ahli biologi dan mikologi (ilmu yang mempelajari tentang jamur).

Suatu hari Firas menghilang. Berbekal dengan berjilid-jilid jurnal ayahnya yang secara khusus diberikan kepadanya, Zarah pun mencari ayahnya. Pencarian Zarah ini mengakibatkan buruknya hubungannya dengan anggota keluarganya yang lain.

Rentetan kejadian juga membawa Zarah ke tempat yang tidak pernah disangka-sangka. Mulai dari pedalaman Kalimantan, hingga menjadi fotografer wild life yang berbasis di London.

Sudah 4 buku Supernova. Tapi kita masih sangat jauh dari inti cerita.

Oke, walaupun kali ini bukunya 2X lebih tebal daripada 3 buku lainnya, tapi dilahap habis dalam sehari.


Supernova #5: Gelombang



Dirilis sekitar akhir 2014. Buku kali ini bermula di Sianjur Mula Mula, Sumatra. Nama tokoh utama kali ini tak kalah unik dari yang lainnya, Thomas Alfa Edison, (ya, dengan f) dipanggil Ichon. Kedua kakaknya masing-masing dipanggil Eten dan Uton. Nama panjangnya Albert Einstein, dan Sir Isaac Newton.

Saat masih kecil, Ichon pernah hampir terbunuh karena makhluk yang datang ke mimpinya. Sejak saat itu Ichon tidak berani tidur, dan mengalami insomnia berat. Dia menyicil tidurnya sedikit demi sedikit setiap harinya.

Seperti Zarah, Ichon juga terseret arus dan akhirnya terdampar di Amerika, yang akhirnya juga membawanya bekerja di Wall Street. Di Amerika jualah dia mengenal bagaimana menjelajahi dunia mimpinya dan apa arti sebenarnya dari mimpi-mimpinya sewaktu kecil.

Banyak pembaca yang berpendapat bahwa cerita di Gelombang adalah cerita yang too good to be true.

Di Gelombang ini, beberapa misteri seri Supernova mulai terungkap dengan dihadirkannya tiga istilah baru: Peretas, Infiltran, dan Sarvara.

Di buku ini juga banyak terdapat referensi yang mengacu kepada Akar. Kadang harus bolak-balik mencari di Akar untuk memastikan bahwa sesuatu yang diceritakan secara sekilas di Gelombang, adalah benda yang sama dengan yang diceritakan di Akar.

Sehari setelah Partikel beres, Gelombang juga beres.


Supernova #6: Inteligensi Embun Pagi (IEP)



Terbit awal 2016. Pre-order buat dapetin versi bertandatangan. Buku pertama yang sampulnya putih (diantara buku-buku lain yang bersampul hitam). Covernya bertaburan hologram heksagonal. Cantik jika dilihat dari sudut tertentu.

Di buku terakhir ini akhirnya hubungan seluruh tokoh-tokoh di buku sebelumnya menjadi jelas. (Hampir) Semua kebagian screentime.


***************************
-------SPOILER ALERT-------
----FULL SPOILER AHEAD!----
***************************

Banyak pertanyaan yang terkumpul selama perjalanan SUpernova yang akhirnya terjawab di IEP. Siapa sebenarnya tokoh X, apa itu Asko, siapa itu Bintang Jatuh, kemana hilangnya Firas, dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Saking banyaknya pencerahan di buku ini, saya merasa agak dipaksakan. Misalnya penjelasan tentang Bodhi yang melihat siluet guru Liong di Akar, Mpret yang ternyata adalah peretas lain dengan kode Foniks, Bong yang juga peretas dengan kode Bulan, Cro-Mag yang ternyata adalah Umbra, etc. Semuanya bermula dari pertanyaan "Apakah Dee sudah kepikiran identitas asli mereka saat tokoh-tokoh ini diciptakan?"

Pendapat pribadi: jawabannya adalah tidak. Setidaknya secara mendetil. Rasanya info-info ini hanya menjadi 'penutup lubang'. Perasaan yang mirip saat menonton "Guardian of the Galaxy" yang rasa-rasanya dibuat hanya untuk menjembatani Marvel Universe.

Efek lain dari saking banyaknya pencerahan tadi adalah, efek 'kenyang', 'jenuh', lalu 'pusing'. Di pertengahan buku, sudah tak peduli lagi kalau si X sebenarnya adalah Infiltran, Sarvara, Peretas, atau Umbra. Bring me to the end, ASAP.

Dan yang paling mengecewakan adalah:
Etra should have more screen time! #teamZalektra #teamWimala


Overall, saya ngerasa Supernova ini juga agak mirip dengan Fate/Stay Night (jika dilihat dari sisi siklus nya). Jadi masih bisa berkembang, mengingat Fate/Stay Night juga mempunyai Fate/Zero yang merupakan prekuel, dan menceritakan tentang siklus sebelumnya. Dan dari sisi Gugus, satu gugus saja bisa memakan 6 buku. Bagaimana dengan Roman 63 gugus lainnya? Bagaimana dengan siklus sebelumnya? Atau malah siklus setelahnya? Kenapa Firas dipanggil Bumi? Bagaimana bisa si Ishtar menjadi semacam Ratu? Terlepas dari berbagai kekecewaan karena harapan yang terlalu tinggi, IEP masih bisa dinikmati.


***************************
-------SPOILER ALERT-------
-----SPOILER END HERE!-----
***************************


-----------------------------------------------------------

Yo, review ini baru kelar setelah dianggurin sekian minggu. Mostly dikarenakan banyaknya kerjaan yang mengakibatkan tak ada waktu buat slacking off.

Seperti biasa, karena delay yang lama antar proses penulisan dan tanpa review, hasilnya adalah bahasa yang campuraduk. maapkeun

BHAY

Baca Selengkapnya....

Rabu, 24 Februari 2016

Semut Tiga Dimensi

"...singkat cerita kami berpikir bahwa kegiatan kalian para astronot adalah pemborosan, menghambur-hamburkan uang"

Setiap kali aku mendengar pernyataan yang sejenis maupun senada dengan pernyataan diatas, aku teringat pada sebuah kisah singkat yang menyertainya. Itu adalah kisah mengenai semut tiga dimensi.


*****


Pada jaman dahulu kala, semut hanya bisa berjalan pada satu garis lurus. Semut-semut ini tak bisa berbelok ke kanan atau ke kiri sedikitpun. Jalurnya mutlak sebuah garis lurus. Untuk sekian lama mereka bertahan hidup hanya dalam satu garis tersebut.

Suatu hari, secara tak sengaja sebuah ranting terjatuh tepat di atas jalur yang biasa mereka lalui. Semut-semut itu terhenti. Mereka bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.

Disaat sebagian besar dari mereka memutuskan untuk kembali ke sarang, seekor semut melakukan hal yang berbeda. Semut itu berjalan keluar dari jalur, dan mulai berbelok ke arah kanan. Semut-semut yang lain mulai meneriakkinya.

"Hoi. Mau ngapain kamu berjalan keluar jalur? Itu berbahaya!"

Namun semut itu tak peduli. Dia terus saja berjalan ke arah kanan, menuju ujung ranting tersebut. Setelah sampai di ujung, dia berbelok ke kiri dan menghilang di balik ranting. Semut-semut yang lain terdiam, lalu memutuskan untuk kembali ke sarang.

Tak lama kemudian semut yang menghilang tadi muncul dari sisi kiri ranting. Dia berhasil mengitari ranting itu dan kembali dengan selamat. Semut-semut yang lain terkejut, lalu mengikuti jalur yang telah dibuatnya dan berbelok ke kanan. Akhirnya semut-semut itu berhasil melewati ranting yang menghalangi jalan mereka.

Sejak saat itu, semut-semut tak lagi hanya bisa berjalan dalam satu garis lurus. Mereka juga mampu berbelok ke kanan dan ke kiri. Dari sinilah muncul istilah semut dua dimensi.


Beratus-ratus tahun kemudian, kembali terjadi sebuah kejadian tak terduga. Terjadi bencana tanah longsor yang begitu besar. Tanah dalam jumlah yang sangat besar menyapu jalur yang biasa mereka lewati, dan menghalangi jalur mereka.

Semut-semut itu berjalan ke kanan dan ke kiri, tapi gundukan tanah itu seakan tak berujung. Mereka tak mampu mengitarinya. Berhari-hari mereka berusaha, namun tetap tak membuahkan hasil.

"Sebaiknya kita menyerah saja," kata salah seorang dari mereka.

Semut-semut itu kelelahan. Usulan itu adalah sesuatu yang mereka tunggu-tunggu. Mereka hanya ingin kembali dan beristirahat. Tak lagi melakukan sebuah pekerjaan yang sia-sia seperti ini.

Sebelum kembali pulang, salah satu dari mereka berdiri di pinggir gundukan. Dia terdiam sambil menatap ke atas, ke arah gundukan tanah yang sangat tinggi seakan tak berujung.

Dia mulai melangkahkan kaki-kakinya menaiki gundukan tanah itu.

"Hei! Apa yang kau lakukan!? Itu berbahaya! Hei!!" semut lain meneriakinya.

Semut itu mengindahkan teman-temannya. Dia terus naik memanjat gundukan itu. Sedikit-demi sedikit dia semakin dekat menuju puncak. Semut-semut yang lain memperhatikannya dengan tatapan khawatir. Saat semut itu sampai di puncak gundukan, napas mereka tertahan. Semut itu terus berjalan, dan menghilang di balik gundukan. Menghilang dari pandangan semut-semut yang lain.

Semut-semut yang ada di bawah mulai bimbang. Seorang dari mereka berbalik dan mulai berjalan menuju sarang. Semut-semut yang lain mulai mengikuti.

Akan tetapi juga ada sekelompok semut yang masih diam terpaku. Semut-semut ini mulai menapakkan kaki mereka di gundukan tanah itu. Ragu-ragu, mereka memanjat dengan hati-hati. Perlahan tapi pasti, mereka semakin mendekat ke puncak gundukan. Teman-teman mereka yang sudah berjalan menuju ke sarang pun kembali terdiam. Sekali lagi mereka tercengang melihat teman-temannya yang lain menghilang di balik gundukan. Mereka pun mencoba mendaki gundukan itu, dan berhasil.

Sejak saat itu semut-semut bisa memanjat. Tak hanya ke kanan-kiri, tapi juga bisa naik-turun. Dari sinilah muncul istilah semut tiga dimensi.


*****


"Nah, ibu, inilah jawaban saya atas pernyataan ibu tadi," kata astronot itu. "Kami tak menyangkal bahwa uang yang dihabiskan untuk misi penjelajahan ruang angkasa tidaklah sedikit. Kamu pun tak menyangkal kalau uang ini bisa digunakan untuk hal-hal lain seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, maupun sarana kesehatan. Tapi kami tak berpikir kalau ekspedisi ke luar angkasa ini tidak penting. Sudah menjadi kodrat kita sebagai umat manusia untuk keluar dari kotak yang mengurung kita, dan mengeksplorasi hal-hal baru. Kita tak akan tahu apa yang menanti kita di luar sana kalau kita tetap diam"

Astronot itu tersenyum, lalu berjalan pergi.


(ditulis ulang, dengan beberapa modifikasi karena lupa, dari apa yang pernah didengar dan dibaca dari Space Brother)


--------------------------------------------


Wamy here~
Hari ini tiba2 gatel pengen nulis ginian. Bukan karna isu LGBT loh, yah. Tapi karna isu lainnya.

Kisah semut 3 dimensi ini adalah salah satu kisah paling 'ngena' yang pernah kubaca. Semoga yang baca ini juga merasakan hal yang sama.

Untuk kali ini, bakal di-post di Notes nya FB, dan besok bakal di-repost ke blog.

Seperti yang udah dikabarin, ini diambil dari salah satu scene di Space Brother alias Uchuu Kyoudai. Karena lupa cerita persisnya kayak gimana, jadi dicoba nge-remake tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan. Yang paling parah adalah lupa kata2 penutup dari sang astronot, sehingga impact nya kayaknya terasa kurang. Duh.


Yogyakarta, 21 Februari 2016
"Nothing's in vain”

Baca Selengkapnya....

Selasa, 16 Februari 2016

Biru - Part 1

"Patah hati itu bisa bikin maag, gangguan pencernaan, dan komplikasi lainnya, loh"

"Pernah ngalamin, mbak?" tanyaku setengah bercanda.

"Iya," jawabnya dengan wajah serius. "Aku termasuk orang yang malas mikirin hal ginian, loh. Dan itu tetap bisa bikin aku dapat gangguan pencernaan"

Aku mengangguk sambil menyuap nasi yang ada di hadapanku.


*****


"Kee. Minta alamatmu, dong."

Pesan itu datang di siang hari yang panas. Aku mengernyit bingung. Tumben-tumbennya dia yang memulai pembicaraan duluan. Aku membalasnya diantara kesibukanku.

"Buat apa?"

"Gak. Cuma mau ngirim sesuatu aja"

"Cokelat lagi?"

"Bukaan. Kali ini lebih istimewa"

"Hmm. Cokelat yang banyak?"

"Di otak lo cuma ada cokelat, yah?"

"Gak, sih. Ada puding juga, kok"

"Terserah lo, deh, Kee. Jadi alamat lo masih alamat kost yang lama, kan?"

"Masih, kok. Ditunggu bingkisannya, yah"

"Btw, akhir bulan depan lo ada acara, gak?"

"Yaitu tanggal...?"

"27-28an gitu, deh. Free?"

"Free, kok. Lo mau ke Surabaya ya, Mi?"

"Gak. Lo yang mesti ke Jakarta"

"Untuk urusan apa?"

"Main-main doang. Piknik dimanaaaa gitu"

"Lo yang ngadain acara? Tumben-tumbenan"

"Oleh karena itu, lo bisa dateng, kan?"

"Gue usahain, deh. Di kalender gue juga belom ada agenda buat tanggal segitu. Kemungkinan besar bisa"

"Asiiik. Yang jauh udah konfirm bisa dateng. Thanks, Kiara"

"Emangnya lo ngundang sapa aja, Mi?"

"Ada deeh. Liat aja nanti"

Ada sedikit perasaan aneh yang menempati sudut pikiranku saat itu.


*****


Di pekan berikutnya, saat aku kembali ke kost selepas bekerja, Ibu Kostmemberikan sebuah paket kepadaku. Menurut resi pengiriman, isinya adalah sebuah buku. Bentuk dan beratnya pun sangat mirip. Kubuka paket itu. Kudapati sebuah buku berjudul Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan. Buku itu sendiri sudah terlepas dari segelnya dan digantikan dengan sampul plastik.

Azmi adalah seseorang yang menjerumuskanku lebih dalam ke dunia perkutubukuan. Dia orang yang rutin menyuruhku membeli berbagai macam buku. Dari dia pula lah aku pertama kali mengenal buku karangan mbah Pramoedya; Bumi Manusia. Masih teringat jelas saat dia pertama kali merekomendasikan buku ini sambil menggebu-gebu. Saking bagusnya dan saking langkanya buku ini, wajahnya terlihat begitu bangga saat memamerkannya.

Di buku pemberiannya terlihat ada yang diselipkan di antara halaman. Benda yang diselipkan itu cukup tebal dan mengganjal. Jauh lebih mengganjal untuk menjadi sebuah pembatas buku. Saking mengganjalnya, jika buku itu diberdirikan halaman itu akan langsung terbuka.


Benda yang mengganjal itu adalah sebuah kertas tebal cantik yang bertuliskan:



Aida & Azmi



Sabtu, 27 Mei 2017



*****


Aku dan Azmi adalah dua dari delapan asisten laboratorium biomedis yang sudah tidak menjabat. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, kami tak lagi terlalu banyak ikut campur dalam urusan praktikum. Tugas kami di laboratorium saat ini hanyalah memberikan sedikit bimbingan bagi asisten aktif. Walaupun tidak lagi menjabat, kami masih sering datang ke laboratorium. Tujuannya tentu saja adalah untuk mengerjakan skripsi.

Jika berbicara tentang teknik biomedis atau bahasa kerennya disebut biomedical engineering, disingkat BME, tentunya tak bisa dilepaskan dengan perangkat elektronika. Perangkat elektronika untuk menangkap sinyal biomedis ini biasanya berharga cukup mahal untuk kantong anak kost. Solusi murahnya adalah meminjam peralatan milik lab. Oleh karena itulah walau kami sudah tak lagi menjabat, kami masih datang ke lab setiap hari.

Beberapa 'penghuni tetap' sepertiku sampai mempunyai ruang kerja khusus. Sebenarnya ruangan disini bukan berarti sebuah tempat berukuran 3x3 yang memiliki pintu sendiri, tapi lebih ke arah personal space. Ruang ini adalah sebuah meja yang berada di pojokan ruang asisten. Dilengkapi dengan sebuah poster di kertas A4 yang bertuliskan "SENGGOL BACOK" besar berwarna merah tertempel di dinding, seluruh penghuni lab tahu kalau pojok itu dipergunakan untuk mengerjakan skripsi, dan tak boleh diganggu gugat. Kalau ada benda yang berpindah tempat tanpa sepengetahuan pemiliknya, seluruh penghuni lab akan menerima murkanya saat itu juga.

Pojok itu hampir tak pernah kosong. Senin sampai jumat, kadang sampai sabtu. Jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Tempat itu selalu berpenghuni. Hanya kosong saat memasuki waktu sholat. Karena ini pula aku biasa disebut kuncen. Jabatan ini selalu diemban oleh laki-laki di generasi sebelumnya. Baru kali ini jabatan ini diemban seorang perempuan.

Salah satu 'penghuni' lainnya adalah Azmi. Aku pertama kali kenal dirinya saat sama-sama menjabat sebagai asisten. Kesan pertama yang kudapat darinya adalah maniak suhu rendah. Setiap baru datang ke lab, dia selalu menurunkan suhu ruangan menjadi 20 derajat. Tak jarang orang-orang yang sedang berada di lab jadi kedinginan, dan menaikkan suhu ke 25 derajat. 5 menit kemudian suhu itu akan kembali diubahnya ke 20 derajat.

Pernah bertemu dengan orang yang baik terhadap semua orang? Azmi ini adalah salah satunya. Dia mempunyai tingkat altruisme yang tinggi. Salah satu contohnya adalah pada saat kami menjabat, dia rela begadang sendirian untuk menyelesaikan alat yang akan dipergunakan untuk praktikum. Sementara kami para asisten lainnya pulang menikmati tidur malam di kasur masing-masing. Keesokan paginya kami mendapatinya tertidur di meja kerja dengan solder yang masih menyala.

Kebaikan lainnya adalah selama masa jabatanku sebagai 'kuncen', dia kerap membawakanku makan siang. Dia biasa datang saat matahari mulai meninggi, sekitar jam 11 siang. Tepat saat jam lapar. "sekalian berangkat ke lab," ujarnya. Kadang-kadang di sebungkus nasi yang dibawanya juga terselip sebatang cokelat. "Biar alergimu kambuh," ujarnya lagi. Kebiasaannya memberiku cokelat masih terus berlanjut sampai kami lulus dan bekerja di dua kota yang berbeda. Setiap dia berlibur ke suatu tempat dan menemukan cokelat, pasti akan ada paket yang sampai di kost ku. Dia juga yang pertama kali memberiku botol air minum.


Aida juga adalah asisten laboratorium biomedis. Tak sepertiku dan Azmi yang mengambil skripsi seputaran biomedis, dia memilih topik skripsi mengenai kontrol. Dengan demikian, setelah masa jabatannya selesai, dia jarang terlihat datang ke lab. Karena suatu alasan, aku agak tak suka dengan Aida. Walaupun saat sedang bekerja dia menjadi orang yang serius, tapi saat santai kadang gaya bercandanya yang kelewatan bisa menyinggung orang di sekitarnya, termasuk aku. Oleh karena itu aku agak bersyukur dia tak mengambil topik skripsi mengenai biomedis.


*****


Aku masih memandangi undangan yang berada di tanganku.


Inikah maksud dari perasaan aneh di sudut pikiranku saat dia menghubungiku minggu lalu?


Aku mengambil ponselku dan mengambil foto undangan itu. Aku langsung mengirimkannya ke sahabatku, Nina. Nina dulunya juga adalah asisten laboratorium biomedis, sama sepertiku.


"Na, udah tau ini?" aku mengirimkan foto undangan kepadanya. kupotong sehingga nama Aida tak ada di gambar itu.

"AZMI?" balasnya.

"Yep. Itu gue dapat dari dia. Shock gue"

"Kenapa emangnya? Lo patah hati?"

Aku terdiam sejenak membacanya. "Yakali gue patah hati. Cuma Shock aja"

"Terus lo kenal siapa pasangannya?"

Kukirimkan foto lengkap undangan itu kepadanya.

"Hahaha. Jadi sama Aida, ya?"

"Iya"

"Terus kenapa lo shock?"

"Entah. No particular reason"

"Felt like your older brother got taken away? *smirk*"

"Boleh diganti jadi 'your son', ga?"

"Son?! Sure, Ki. Suuure~ *smirk*"

"Damn you, Na"

"Gak salah lagi ini pasti patah hati," balasnya. "Lo ga sadar aja kalau selama ini lo suka"

Aku diam berpikir. Kalau memang secara tak sadar aku suka, ini bisa menjelaskan beberapa perasaan mengganjal.

"Iya kali, ya. Secara ga sadar," balasku.

"Tapi gue ga nyangka lah dia bakalan jadi sama Aida. Di kelas sudah sering digosipin, sih. Cuma mereka selalu mengelak"

"Jadi mereka udah digosipin pas masih kuliah? Tapi kok waktu kita di lab mereka biasa-biasa aja?"

"Nah itulah. Gue juga agak kaget liatnya. Tapi gak sekaget lo pastinya"

"Oh, shut up"

"BTW, dia belom ngirim undangan ke grup lab, kan? Kok lo udah terima undangannya?"

"Entahlah, Na. Gue juga bingung. Minggu kmaren dia nanyain gue ada acara ato ga buat tanggal 27 mei itu. Gue kira mau ngajak main, kan ya. Taunya dapet undangan kayak gini"

"Terus lo bilang apa ke dia?"

"Belom bilang apa-apa. Ini aja masih shock," kataku. "Menurut lo, gue mesti gimana?"

"Ya ga gimana-gimana. Lo mesti dateng, lah. Apa perlu gue temenin?"

"Please do, Na. Pretty Please"


Malam itu tidurku tak nyenyak.

Seminggu kemudian undangan itu disebar di grup Facebook. Aku menghindari media sosial itu selama seminggu berikutnya.

Dalam rentang waktu itu juga aku mendapat gangguan pencernaan.


***** Part 1 end *****


------------------------------


Kemaren habis dari Surabaya dan ketemu ama ponakan yang belom genap setahun, namanya Kiara. Unyu nya luarr biasa. Dan akhirnya namanya dipinjam. Horee.

Pernah ketemu orang yang baik ke semua orang? Bayangkan aja kalo si Azmi ini sama kayak orang itu. Susah deh ngegambarin detilnya satu per satu.

Setelah selama seminggu penuh ditempa satu bug yang luar biasa sakti, akhirnya ada kesempatan slacking off. Fyuuh.

Kali ini sengaja dibikin 2 part. Dikasih jeda buat Kiara menari-nari sesuka hatinya dulu di kepalaku. Semoga di part 2 Kiara tak mengejutkanku dengan tindakan yang aneh.

Ciao.



Yogyakarta, 16 Februari 2016
"Which only proves love moves in mysterious way"

Baca Selengkapnya....

Jumat, 05 Februari 2016

Goa Cerme + Wohkudu, 30 Jan 2016



 Perjalanan dari Jogja ke lokasi gua ini memakan waktu sekitar 90 menit. Biaya retribusi area sekitar adalah 3000, sedangkan biaya retribusi masuk gua 3000, total 6000. Biaya sewa helm + headlamp 10000, biaya guide 50000 untuk 14 orang.



Normalnya gua ini bisa disusuri dalam waktu sekitar 80 menit.

Well, di dalam gua terendam air mulai dari setinggi separuh betis sampai se-udel. Dengan ukuran tinggi orang normal tentunya *smirk*. Yaah, kalo diibaratkan mah ga jauh beda sama banjir; warnanya cokelat (walau ada beberapa tempat yang berair bening) dan setinggi itu. Bedanya disini gelap, dan gak ada yang 'ngambang'.

Kadang di dalam ada spot yang dipasangi dupa.



I love play in water. But in a dark-and-'stony' place like this, I don't enjoy it too much.


Setelah keluar juga ada kamar bilas. Ada 3 kamar untuk cowok, dan 3 kamar untuk cewek. Di depan pintu tertulis "Bayar 2000", tapi tak ada penjaga ataupun kotak uang. Jadi, bisa dianggap gratis.


*****


Spot selanjutnya adalah Pantai Wohkudu. Kayaknya sekitar 30-60 menit kalau dari Gua Cerme. Di 15 menit terakhir perjalanan, jalannya masih berupa makadam. Pantat sakit, motor (bisa) rusak.

Di depan ditagih retribusi 3000 per motor. Tak lama kemudian dari ketinggian terlihat birunya laut.



Sampai di parkiran motor, yang punya parkiran menunjukkan arah ke pantai. Harus mendaki gunung dan lewati lembah, jalan kaki!

"Lewat situ, mas. 10 menit jalan kaki. Ketemu pohon kelapa, belok kanan"

Oke, ini kayaknya lebih 10 menit. Dan ini banyak pohon kelapa. Kapan beloknyaa?

Akhirnya kami mengabaikan apa yang dikatakan bapak tukang parkir, dan mengikuti jalan setapak yang ada.






Ditutup dengan sesi makan malam di suatu tempat yang entah apa namanya, lalu minum susu di Susu Bang Jo.


As a final note, maybe my 'dislike' towards beach is derived from those early beaches I've ever visit. Such as Takisung beach in South Borneo, or Maron beach in Semarang. Yes, both are 'dirty'. First time I ever visit beautiful beach, maybe in Lombok. So, yeah. I love seeing nature. And beautiful beach like this is also one of them :)

Baca Selengkapnya....