Jumat, 21 Agustus 2015

Segelas Kopi dan Sebungkus Perasaan

Dua orang itu perlahan memasuki warung kopi yang penuh. Agak ragu, keduanya berjalan pelan ke arah counter sambil celingak-celinguk, mencari-cari tempat duduk yang kosong. Selagi menunggu pesanan mereka jadi, salah seorang dari mereka melihat sepasang sofa kosong di pojok. Mereka berjalan dengan agak tergesa-gesa. Khawatir didahului orang lain.

Mereka berdua melepaskan jaket yang dikenakan lalu meletakkannya di sofa itu, penanda bahwa sofa itu sudah terisi.

Tak lama kemudian keduanya kembali dengan membawa kopi di tangan masing-masing.

"Jadi apa kabar lo dengan Mbaknya?"

"Asem. Baru aja ketemu udah langsung main tembak aja. Pelan-pelan laah"

"Seharian ini gue udah dengerin curhatan dua orang. Yang satu udah menelepon pagi-pagi, yang satu lagi menelepon 5 jam. Malam ini gue khususkan datang jauh-jauh buat dengerin curhatan lo lah. Makanya, buruan cerita!"

"Ga ada progress lebih lanjut. Masih jalan di tempat. Malahan berasa mundur perlahan," jawabnya sambil agak tertunduk.

"Udaah. Kalo gitu lo ama Zahra aja"

"Lah? Kok jadi ama Zahra?"

"Abisnya lucu. Kalo gue liat lo lagi ama dia rasanya cocok aja. Lagipula dia juga tipe lo, kan?"

"..."

"Jadi kapan mbaknya nikah?"

"Ya mana gue tau. Ga berani nanya gituan ke dia. Masalah sensitif soalnya"

"Kalo gitu, siapa calonnya?"

"Itu juga ga tau. Sama, ga berani nanya juga."

"Cih. Padahal gue setuju banget kalo lo jadi ama mbaknya"

"Nah, kan. Lo aja setuju, apalagi gue"

"Kalo cewek yang dapet kabar kayak gitu, pasti dia udah nangis-nangis sambil curhat ke sobatnya. Jadi, sekarang perasaan lo gimana?"

"Tiga bulan ini biasa-biasa aja, sih"

"Hoo. Jadi udah move on, nih?" godanya sambil tersenyum.

"Kalo dibilang move on sih kayaknya belum"

"Kalo gitu,, udah nemu yang baru berarti ya?"

Dia mengaduk-aduk kopinya, lalu menyeruputnya sedikit.
"Ummm... Kayaknya iya"

"Hooooooo?! Cerita. BURU!!"

Dia menyodorkan smartphonenya. Layarnya menampilkan foto seorang laki-laki dan dua orang perempuan.

"Hmm. Pasti yang ini, kan?" ujarnya sambil menunjuk yang berkerudung merah.

"Kok tau?" sahutnya setengah terkejut.

"Ya iyalah. Lo pikir udah berapa lama gue kenal ama lo, hah? Gue tau fetish lo tuh yang kayak gimana. Siapa namanya?"

"Ini," dia menyodorkan smartphonenya lagi. Kali ini layarnya menampilkan sebuah media sosial. "Kalo namanya susah diingat, sebut saja Skullgreymon"

"Halah. Pake nama digimon yang 'unyu'an dikit, napa."

"Ada sejarahnya ituuu. Kali ini terima aja, ya"

"Jadi sudah sejauh mana lo ama si Skullgreymon ini?"

"Hmm. Yang paling privat sih cuma pernah nonton berdua, makan berdua."

"Wow. Kalo yang rame-rame?"

"Jalan-jalan, karaoke, makan, nonton, dan teman-temannya lah"

"Waaah. Ini mah progress gede buat lo. Biasanya kan malu-malu gimanaaa gitu. Terus sekarang?"

"Sama. Jalan di tempat"

"Bwahahahaha," dia terbahak.

"Heh, lo ketawa aja. Lo ama 'Abah' kan juga sama, pret"



Keduanya melanjutkan pembicaraan random mereka. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Meninggalkan dua cup kopi kosong yang bertuliskan nama Ratna dan Roy.





------------------------------------------------------


Yahoooooo. Ketemu lagi.

Kali ini gue nyoba nulis percakapan. Dan, kesimpulannya: SUSAH.

Selain mikirin kata-kata dan gaya bicara tiap orang, menyampaikan ide nya pun agak susah. Dan yang paling susah adalah "Abis ini musti nulis apa ya buat pelengkapnya". Musti belajar lebih banyak lagi buat gaya yang satu ini

Ide cerita awalnya adalah dari salah satu hobi gue; eavesdropping. Ceritanya di sebuah warung kopi kenamaan, ada seseorang duduk sendirian dan tiba-tiba ada sepasang pelanggan lain dateng dan duduk tepat di sofa sebelahnya. Mereka bercakap-cakap, dia mendengarkan sambil pura-pura ga dengar. Idenya sih, begitu.

Awalnya juga, cuma niat bikin cerita pendek sependek pendeknya. Tapi, apalah daya mereka tiba-tiba jadi rada panjang kayak gini. Udah panjang pun, masih vague dan GANTUNG. Hahahahasem.

Mungkin nanti gue bakal coba bikin cerita yang lebih pendek dan lebih jelas.


Anyway, here I lay my pen down.




Yogyakarta, 21 Agustus 2015
"For me, myself"


Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar